Jika Banjir, jangan Salahkan Air!


Di daerah tertentu, ketika ada hujan kenapa bisa banjir? Bisa banjirnya dalam waktu sebentar atau banjiranya dalam waktu yang lama. Banjir berkaitan dengan air. Air yang menggenang dalam jumlah yang banyak. Kalau menggenangnya pada tempatnya tidak ada masalah, yang menjadi masalah adalah ketika menggenangnya ada di pemukiman. Walaupun banjir berkaitan dengan air, tetapi bukanlah salah air. Bahkan air merupakan kebutuhan utama manusia dan makhluk hidup yang lain. Air hanya mengikuti sifatnya, mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah dan meresap melalui benda yang berpori-pori/bertekstur renggang. Kalau air yang akan menuju tempatnya (misalnya sungai atau laut) alirannya terhambat maka akan timbul genangan. Begitu juga ketika air susah terserap ke dalam tanah maka akan ada di permukaan tanah dan timbul genangan juga. Kalau genangan dalam jumlah banyak, terjadilah banjir.

Jika ada daerah terjadi banjir berulangkali maka seharusnya bisa dievaluasi dan melakukan antisipasi. Paling tidak, ada usaha yang berkelanjutan untuk mencegah terjadinya banjir itu, atau meminimalisir akibatnya. Ketika usaha sudah dilakukan pasti ada hasilnya. Kalaupun hasilnya belum memuaskan tetap terus berusaha dan tidak berputus asa. Saya yakin, dari pihak pemegang kebijakan sudah melakukan banyak hal untuk menangani bencana  banjir. Apalagi jika banjirnya datang secara rutin. Tetapi tidak ada salahnya saya sebagai masyarakat awam ikut membantu menyebarluaskan usaha dalam menangani banjir.

Dengan logika berpikir saya yang sederhana, supaya air tidak menggenang dan terjadi banjir maka perlu mengatur supaya air hujan yang turun bisa cepat terserap dan bisa cepat berada pada tempatnya.

Supaya air bisa cepat terserap maka perlu area resapan yang memadai. Perlu banyak area terbuka hijau yang mencukupi untuk kebutuhan resapan. Jangan sampai air hujan yang turun hanya sebagian kecil yang terserap ke tanah dan sebagian besar ada di permukaan. Air tidak cepat terserap karena permukaan tanah yang sebagian besar tertutupi oleh permukaan keras, misalnya pemukiman rumah atau plester semen.  Apalagi jika yang tertutupi adalah daerah resapan utama, misalnya daerah pegunungan yang berubah menjadi bangunan villa atau perumahan. Tidak hanya di daerah pegunungan, di daerah pemukiman di dataran rendahpun, jika area resapan sudah banyak yang tertutup permukaan keras, maka ketika air hujan turun, airpun masih ada di permukaan. Seharusnya ketika ada pembangunan pemukiman atau yang lain diperhatikan juga area resapannya. Aturan atau undang-undang yang mengaturnya harus ditegakkan. Pemegang kebijakan harus tegas, jangan hanya mencari keuntungan pribadi jadi menyengsarakan banyak orang. Ketika membangun fasilitas jalanpun seharusnya ada saluran air yang memadai. Saya sering mengalami ketika naik kendaraan dalam kondisi hujan lebat maka jalananpun seperti sungai, penuh dengan air. Ada jalan yang tidak dilengkapi saluran air dan ada jalan yang saluran airnya tidak memadai. Kondisi seperti ini selain membahayakan pengguna jalan juga mempercepat kerusakan jalan.

Supaya air bisa cepat menempati tempatnya maka perlu adanya tempat air yang memadai dengan didukung  saluran air (drainase) yang memadai. Beberapa contoh yang bisa menjadi tempat air dan saluran air misalnya : situ, danau, waduk/danau buatan, selokan, sungai. Jangan sampai tempat dan saluran air yang ada jumlahnya tidak memadai dengan debit air yang ada. Atau saluran dan tempat air yang sudah ada terhambat atau berubah fungsi. Hambatan yang ada pada saluran air dan tempat air misalnya terhambat karena sampah, adanya pendangkalan karena sampah dan adanya penyempitan karena bangunan liar.

Ketika musim kemarau banyak yang dengan seenaknya membuang sampah sembarangan, baru terasa akibatnya ketika musim penghujan. Jika semua sudah tahu sampah yang menjadi penyebab, harusnya semua sadar untuk tidak membuang sampah secara sembarangan. Sekecil apapun sampah yang ada jangan dibuang sembarangan, terutama sampah anorganik, misalnya bungkus permen. Penanganan sampah yang baik akan mempunyai peran dalam mengurangi banjir. Bisa dimulai dengan memisahkan sampah organik dan anorganik. Sampah yang organik bisa dijadikan kompos, bisa memanfaatkan biopori dan sampah anorganik bisa didaur ulang, bisa mengadakan bank sampah. Sosialisasi kesadaran tentang sampah ini bisa dilakukan secara berkelanjutan oleh pemerintah melalui lingkungan terkecil RT atau RW. Jika pemerintah menggalakkan dan memfasilitasi dan dari RT atau RW terus menggerakkan masyarakatnya kesadaran tentang sampah, secara perlahan tapi pasti masalah sampah akan bisa teratasi. Jika masalah sampah teratasi maka berpengaruh positif juga dengan masalah banjir.

Seharusnya juga ada penertiban bangunan liar di bantaran sungai untuk menghindari penyempitan. Harus ada ketegasan dalam menangani masalah ini. Jika memungkinkan bisa direlokasi. Jika terus dibiarkan, bangunan liar bisa akan terus bertambah banyak dan masalah yang ada akan selalu berulang.

Kebutuhan saluran air atau drainase yang memadai di lingkungan pemukiman juga dibutuhkan. Saluran utama air di lingkungan pemukiman sebaiknya sudah direncanakan dari awal oleh pemerintah. Jika ada pendirian bangunan berikutnya tinggal mengikuti saluran utama air. Ketika ada yang mendirikan bangunan sebaiknya juga direncanakan untuk pembangunan saluran air/drainasenya. Yang saya ketahui selama ini, jika ada yang membangun rumah tidak memperhatikan saluran airnya, asal bangun, kecuali perumahan yang dibangun oleh pengembang/developer. Hal ini kemungkinan memang karena ketidak tahuan. Usul saya, bagaimana jika ada petunjuk/standar kebutuhan saluran air/drainase dalam mendirikan bangunan, dan disosialisasikan ke masyarakat umum. Seperti dalam instalasi listrik ada Petunjuk Instalasi Listrik (PUIL), begitu juga dalam saluran air/drainase ada Petunjuk Pembangunan Saluran Air/Drainase.

Ada juga usaha selain yang di atas untuk persiapan dalam menghadapi banjir, misalnya menambah tempat air dan saluran air. Kalau di daerah-daerah ada pembangunan waduk, kalau di Jakarta ada pembangunan banjir kanal. Bisa juga dengan melebarkan dan memperdalam saluran air, supaya daya tampungnya semakin banyak. Jika banjir yang terjadi karena daratan dibawah permukaan laut, tanyakan saja kepada ahlinya, bagaimana cara menanggulanginya. Mungkin dengan membuat tanggul di pantai dan memompa air dari daratan ke laut.

Yang penting, semua sadar diri dan ikut berperan dalam melakukan persiapan menghadapi genangan air karena hujan yang  bisa berakibat banjir. Sebagai masyarakat, yang bisa dilakukan antara lain menjaga area hijau penyerapan air, menjaga saluran dan tempat air yang ada, memperhatikan saluran air (drainase) ketika mendirikan bangunan, tidak membuang sampah sembarangan. Maka, jangan salahkan air!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s