Rumahku Surgaku


Postingan ini adalah Proyek tulisan Blogor benama Chain Posting, saya berada di urutan ke-empat dengan tema “CINTA”, silakan membaca cerita sebelumnya di blog barudak Blogor di bawah ini :

Cerita Sebelumnya :

1. Miftah Abdillah Achmad di Bagian 1

2. Bunda Desi Hartanto di Bagian 2

3. Pak Hartanto Sanjaya di Bagian 3

4. mas Fajar Suyamto di Bagian 4 (yang anda baca sekarang)

5. Unggul Sagena di Bagian 5 (coming soon)

 

Membaca cerita dari Miftah bahwa ada 2 orang anak kakak beradik yang masih sebagai pembelajar.

Membaca cerita dari bu Desi, bahwa kedua anak itu mempunyai ibu yang perhatian kepada kedua anaknya.

Membaca cerita pak Hartanto bahwa ada seorang ayah yang sangat peduli terhadap pendidikan anak-anaknya, dari ceritanya juga bahwa kedua anak itu adalah laki-laki (kakak) dan perempuan (adik).

(cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan nama tempat dan yang lainnya, itu karena ketidak sengajaan atau sedikit kesengajaan dari yang nulis, mohon dimaafkan; saran dan kritik siap di tampung)

Semoga iapun bisa mendapatkan hal serupa di lingkungan “bermain” keduanya… lingkungan pendidikan formal di sekolah…

Gelapnya malam masih menyelimuti hari. Udara dingin masih terasa menusuk tulang, apalagi semalaman hujan turun membasahi bumi, turunnya hujan adalah bukti cinta langit kepada bumi. Dengan hujan menjadikan adanya kehidupan di bumi. Begitu juga dengan suasana rumah yang berisi pasangan suami istri dan dua anak (putra si sulung dan putri si bungsu). Dalam kesederhanaan, tetapi penuh cinta dan kasih sayang. Kedua orang tuanya sangat mencurahkan perhatian dan kasih sayang di tengah kesibukan sehari-harinya, sang bapak sebagai Pegawai Negeri Sipil yang jujur dan sang ibu walaupun lulusan sarjana tapi mengabdikan diri kepada keluarganya sambil mengelola usaha catering. Dalam kesibukannya masih memperhatikan bagaimana pendidikan sang buah hati.

Pagipun menjelang, sayup-sayup terdengar suara panggilan Tuhan, suara adzan dari masjid komplek. Suara yang selalu indah, yang mengingatkan akan seorang hamba kepada Penciptanya. Ada kerinduan akan suasana desa dimana dulu terdengar suara ayam berkokok di waktu subuh, sekarang tidak terdengar lagi. Sekarang tempat tinggal kami berempat di lingkungan perumahan di pinggiran kota dengan curah hujan tertinggi, di Bogor. Sebagai orang tua mempunyai harapan supaya bisa menjadi teladan dan mengawal kedua buah hati sampai menjadi manusia dewasa yang bermanfaat. Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat.

Cinta dan perhatian yang diberikan ke buah hati di lingkungan keluarga adalah bekal untuk mereka meraih cita-citanya. Orang tua dan lingkungan keluarga berpengaruh besar terhadap perkembangan pendidikan dan mental anak. Memang tidak mudah membesarkan anak-anak di masa sekarang ini. Tantangan-tantangan dalam kehidupan siap menghadang. Ada tantangan kriminalitas dan ada tantangan moralitas. Dalam keluarga yang diliputi dengan cinta dan kasih sayang bisa menjadi tempat pendidikan (baca:sekolah) yang pertama dan bisa menjadi benteng utama untuk menghadapi tantangan-tantangan kehidupan. Anak-anak tidak hanya menjadi cerdas otaknya (IQ) dan mempunyai nilai-nilai pelajaran sekolah yang bagus tetapi juga cerdas hatinya (SQ dan EQ). Walaupun mempunyai nilai yang bagus di sekolahnya tidak menjadikannya tinggi hati. Walaupun menjadi anak yang pandai tetapi tetap mempunyai sopan santun, menghormati dan menghargai orang lain. Selain bisa mandiri dan bertanggungjawab juga mempunyai sifat simpati, empati kepada orang lain. Dan ketika nantinya sudah merengkuh kesuksesan dunia maka akan tetap membumi, bersahabat dengan siapapun tanpa kesombongan dan keangkuhan. Intinya pendidikan karakter tidak terabaikan ditengah kesibukan bergelut dengan teori-teori pelajaran.

Suasana pagi yang hangat nampak di keluarga kecil ini,

“Anak-anak waktunya sarapan, bapak sudah menunggu neh” terdengar suara dengan penuh kasih seorang ibu dari ruang makan. Di meja makan sudah tersedia lengkap menu-menu kesukaan dari seluruh anggota keluarga. Sang ibu memang ahli dalam memasak, bahan-bahan masakan yang umum dijumpai di pasar tradisional bisa diolah menjadi sesuatu yang menarik dan spesial tanpa mengurangi kenikmatan rasa dan nilai gizinya.

Si sulung muncul duluan menuju meja makan, walaupun sudah kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB) jurusan Fisika semester awal, tetapi masih sering menyempatkan diri untuk berkumpul makan pagi bersama. Selain kuliah dia juga ikut aktif di organisasi intra dan ekstra kampus untuk melatih teamwork dan kepemimpinan, dia sering terlibat dalam aktifitas-aktifitas sosialis, misalnya saja penggalangan dana untuk membantu korban bencana di Jogja, Mentawai dan Wasior di lapangan Sempur pas hari ahad bersama-sama dengan Blogor (Komunitas Blogger Bogor).

“Selamat pagi pak” sapa sulung ke ayahnya sambil tersenyum dan menempati kursi di samping ayahnya. “Pagi juga le” jawab ayahnya dengan panggilan jawa (thole). Dengan kumpul makan bersama seperti ini sering terjadi obrolan akrab dan hangat.

“Pak, kira-kira saya nanti kalau sudah lulus mau jadi apa ya?” si sulung yang dianggap ‘abnormal’ oleh adik perempuanna membuka percakapan dengan ayahnya. “Selesaikan saja kuliahmu dulu dengan baik, bisa lulus tepat waktu dengan IP yang memuaskan, syukur-syukur cumlaude, insyaAlloh nanti juga ada jalan rizqi ketika kamu lulus, mau jadi apa saja yang penting kamu mencintai pekerjaanmu, apapun pekerjaan yang nanti akan kamu ambil, bapak dan ibu mendukungmu, bimbing juga adikmu itu” jawab sang ayah dengan bijaksana.

“Iya pak, sebetulnya punya keinginan juga bisa terus melanjutkan kuliah psampai dengan S3, seperti dosen idola saya yang guru besar di IPB pak Sjafri Mangkuprawira, tapi ada juga seperti kakak teman saya, namanya bu Surya, dulu dia kuliahnya di kedokteran hewan tapi sekarang dia kerjanya di Bank, dia malah jadi ahli perbankan lho pak”, “ jadi ga nyambung tuh antara yang dulu ia pelajari dengan pekerjaan yang dia tekuni, tapi hobinya sih masih nyambung dengan kuliahnya dulu, hobinya tuh melihara kucing, kucingya diberi nama, dibeliin pakaian dan kalau pas musim kawin dikawinin sama kucing lain  lho”, cerita sulung ke bapaknya.

“Iya, makanya carilah bekal ilmu sebanyak-banyaknya, tidak hanya yang kamu pelajari di bangku kelas, tapi juga ilmu-ilmu yang lain yang bisa kamu dapat dari aktifitas selain kuliah, misalnya berorganisasi dan jadi aktifis sosial, teman bapak juga ada yang sarjana ekonomi tapi malah jadi wirausahawan mie,namanya kang Achoei dia sudah punya tiga restoran mie yang terkenal di seluruh Jabodetabek dan sekitarnya, kenalan bapak bernama Ontohud juga kuliah di Geologi malah jadi ahli web desainer dan pelukis”, jawab ayahnya lagi.

Sementara itu sang ibu menyiapkan minuman, dan ketika terjadi percakapan antara sulung dan ayahnya, adiknya (si bungsu) yang masih duduk di bangku SMA kelas 1 datang ke meja makan. Dia langsung duduk dan nyerocos menceritakan mimpi yang dialaminya semalam.

“Kak, semalam saya mimpi aneh deh, mimpinya serem banget”, cerita bungsu ke kakaknya. “emang mimpi apaan?”, jawab kakaknya.

“semalem saya mimpi sperti dikejar-kejar hantu”, tambah sang adik.

“makanya jangan suka nonton film horor, jadi parno sendiri nanti”, “ngga biasanya ade mimpi serem, mikirin apa seh?” kata kakaknya.

“oh iya kak, kemarin temen-temen pada cerita tentang hantu perempuan yang ada di sebuah rumah kuno peninggalan jaman Belanda, katanya hantu itu dari arwah penasaran perempuan indo Belanda-Sunda, namanya Intan Ayu”, jawab adiknya.

“mana ada hantu, hantu itu cuma mitos, jangan percaya dengan cerita yang begituan, bohong itu”, tiba-tiba ibu muncul dari dapur dengan membawa susu kedelai rasa jahe.

“tapi kata temen-temen beneran ada bu, sudah banyak yang ditemuin oleh hantu itu, terutama yang ditemui adalah laki-laki hidung belang yang suka punya pikiran kotor”, si bungsu menjawab dengan semangat.

“makanya kak, jangan suka mikirin yang kotor-kotor, hantu saja ngga suka tuh”, kata si bungsu ditujukan ke kakaknya.

“kakak khan orangnya baik hati, tidak sombong dan suka menolong, terutama kalau yang ditolong adalah perempuan, hehe…”, canda kakaknya, “makanya, jelek-jelek gini temen-temen kakak juga banyak yang perempuan”, kata sulung dengan membanggakan dirinya. “ pernah kakak nolongin cewek yang sering kakak lihat duduk di halte depan kampus, ceweknya itu suka dengan warna hijau, sering sekali memakai pakaian dan kerudung warna hijau”, “karena suka memakai warna hijau, saya baru tahu kalau dia mendapat julukan Gadis Rumput”,”mungkin dia mau mengkampanyekan Go green untuk negri ini”, cerita sang kakak.

“yang namanya makhluk halus itu pasti ada, Tuhan menciptakan Jin yang merupakan makhluk ghoib, jadi misalnya muncul bentuk hantu yang menyerupai perempuan bernama Intan Ayu itu adalah dari jin”, “tujuannya untuk menggoda manusia”, “supaya manusia tergoda dan bisa lalai kepada sang Pencipta, supaya menjadi takut dengan hantu tapi tidak takut dengan Tuhan”, “buktinya ada orang yang menyembah hantu atau jin dengan memberikan sesaji, itu tidak boleh, bisa jadi menyekutukan Tuhan, Syirik”, nasehat ayahnya.

Makan pagi telah dilalui dengan akrab dan hangat. Saat-saat seperti itulah yang menjadikan ikatan cinta dan kebersamaan dalam keluarga itu begitu indah. Jangan sampai cinta dan kasih sayang yang sudah dibiasakan di dalam keluarga menjadi sia-sia dan hilang karena kebencian dan kekerasan yang muncul ketika mereka di sekolah atau lingkungan pergaulan.

Dengan mencium tangan sang ibu dan ayah, kedua anak itu berangkat ke tempat menuntut ilmu mereka masing-masing. Sang ayah juga bersiap untuk menuju tempat dimana bus jemputan kantor akan melintas.

“Nak jangan jajan sembarangan ya!”, pesan ibu kepada anak bungsunya yang perempuan. Anak bungsunya memang masih terbawa dengan kebiasaannya ketika masih di bangku SMP, sering jajan makanan-makanan yang dijual di pinggir jalan bersama teman-temanya. Salah satu jajanan kesukaanya adalah cimolnya mang Odang.

“OK bu, siap!, paling nanti nyicipin dikit ya…hehe, Assalamu’alaikum ibu bapakku tersayang…daagh…”, jawab si bungsu sambil berjalan menuju jalan raya untuk menunggu angkot yang mengantarkannya menuju tempat belajar.

Bersambung ke :

Kang Unggul Sagena di [coming soon]

12 thoughts on “Rumahku Surgaku

  1. ternyata pembagian grup chain posting session 1 ini koq sepertinya pada jodoh ya? masing2 anggota grup memiliki concern yg sama dg temanya…

    salut!
    terima kasih kang Fajar atas lanjutannya!

  2. Selain jadi tau tempat2 kuliner bagus dari irvan.. Di sini saya juga jd makin tau biografi kawan2 blogor…

    Baru tau bu suria dokter hewan, dan calon suaminya ahli geologi… Hehehehe…

    ChainPosting emang mantap!

  3. Pingback: Bercinta dengan cerdas « Catetan kecil httsan

  4. Pingback: Mereka Anugerah Terindah Dalam Hidup Ini « Sajian Defidi

  5. Pingback: Chain Posting: Bermain Dalam Tulisan | blogor.org

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s