Tidak akan Tertukar


Melihat TV baru ramai embicarakan kerbau, setelah yang kemarin cicak vs buaya, entah nanti akan muncul binatang apa lagi yang ikut mewarnai perjalanan bangsa ini.

Terjadi perdebatan yang seru ketika pembahasan demonstrasi/berunjuk rasa dengan melibatkan hewan yang tidak berdosa, kerbau. Dari pihak pendemo itu merupakan hal yang sah karena salah satu bentuk kreatifitas dalam demokrasi. Dari pihak yang didemo itu adalah bentuk pleanggaran etika dalam berdemokrasi. Apalagi dengan menghina simbol-simbol pemimpin negara. Bagaimana bangsa ini akan manjadi maju kalau rakyatnya tidak menghormati pimpinan/kepala negaranya sendiri, begitu alasannya.

Ada yang berpendapat kalau kejadian demonstrasi yang kreatif dengan melibatkan kerbau merupakan bentuk dari hasil ‘akibat’, karena pemimpin sendirilah yang sebelumnya sudah tidak beretika, tidak menghormati rakyatnya yang sebetulnya adalah majikannya. Bagaimana mungkin ditengah kesulitan rakyat dengan kehidupannya, mempercayai pemimpin supaya menjadi lebih baik dalam hidupnya malah pejabat/pemimpin bangsa tengah asik menikmati fasilitas mewah, kenaikan gaji (katanya reformasi birokrasi, tapi koq hanya pada kenaikan gaji saja), bahkan menghabiskan anggaran yang tidak sedikit untuk penggantian pagar yang sebetulnya masih berfungsi.

 

Seharusnya sangatlah wajar kalau dalam bangsa ini rakyatnya mempunyai karakter yang bermacam-macam. Termasuk ketika menyampaikan pesan kepada pemimpinnya. Penyampaian pesan bisa merupakan bentuk rasa cinta rakyat kepada pemimpinnya dan juga bangsa. Bisa dibayngkan kalau rakyat ini sudah masa bodoh ‘mbuh ra weruh’ atau ‘mbuh ora urus’ kepada bangsa dan pemimpinnya, ‘apa yang akan terjadi?’ dan ‘apa kata dunia?’. Harusnya pemimpin bangsa ini berterimakasih menerima dengan senang hati atau bahkan bisa memberikan hadiah kepada pengkritik terbaik. Seperti kata seorang ustadz, kalau ada yang ememberikan kritik itu merupakan jalan kebaikan untuk bisa instropeksi. Apakah memang sudah bebal tidak mau menerima kritik? dan kebal terhadap kritik/pesan rakyatnya?

Ahh…tidak mungkin semua terbebas dari kritik, apalagi yang mempunyai  tanggung jawab dalam urusan orang banyak/khalayak ramai. Seandainya ada kritikan tergantung bagaimana menyikapinya. Orang yang paling mulia Rosululloh Muhammad SAW, seorang pemimpin negara, pernah diludahi berkali-kali tetapi tidak ada kemarahan sedikitpun, bahkan menjenguk yang paling pertama kali ketika yang meludahinya dalam keadaan sakit.

Setiap perbuatan akan kembali kepada yang melakukannya, tidak akan tertukar. Siapapun itu akan mendapatkan balasan amal sesuai yang diperbuatnya, walaupun amal perbuatannya sekecil debu pasti ada balasannya. Kebaikan sekecil debu akan mendapatkan balasan kebaikan, apalagi kebaikan yang besar, begitu juga sebaliknya.

Yang mendemo/mengkritik ataupun yang didemo/dikritik akan mendapat balasan sesuai amal dan perbuatannya, tidak akan tertukar. Tidak ada kekhawatiran dari perbuatan yang dilakukan oleh masing-masing pihak, siapa yang berniat tulus dan mencintai bangsa ini pasti akan melakukan kebaikan-kebaikan bagi bangsa. Tidak melakukan korupsi, tidak melakukan pungli, tidak disuap, tidak merusak generasi muda dengan film-film horor yang porno, tidak merusak hutan, dan lain sebagainya-anda bisa menambahkan sendiri-.Becik ketitik ala ketara”.

2 thoughts on “Tidak akan Tertukar

  1. Assalamualaikum wr.wb…ikut nimbrung ah ^_^
    bawa kerbau
    “bentuk pelanggaran etika dalam berdemokrasi” jika hal tersebut di anggap melanggar etika trus bagaimana pelanggaran2 yang terjadi di kalangan wakil rakyat sampai adu jotos di tempat sidang?pelanggaran hukum oleh sebagian kalangan atas,bukan hanya etika tapi sudah pelanggaran hukum ada istilah mafia hukum,koruptor,dll.Sampai kapan bangsa kita akan maju kalo menanggapi hal seperti itu saja sudah repot…padahal masih banyak hal yang perlu dibenahi di berbagai sektor.salah satu contoh kapan bangsa kita menggratiskan Pendidikan…padahal pendidikan kunci utama untuk maju mundurnya sebuah bangsa.Bagai mana mau cerdas dan maju bangsanya kalau nyari sesuap nasi juga repot apalagi ditambah biaya pendidikan yang selangit.”sekarang ini pendidikan kayaknya untuk golongan yang berduit saja”.nah itu contoh yang nyata harusnya itu yang dipikirkan bukannya masalah yang sepele.Harusnya kita malu kenapa bangsa kita itu dikit-dikit ribut cape deh..Pikirkan dong Bangsa kita kedepannya mau bagai mana??^_^

  2. aneh ya… kenapa presiden kita yg skarang mudah dihina-hina dan dinjak-injak, gak ada yg berani bertindak. waktu jaman Suharto, ada yg hina sedikit saja sudah masuk penjara, mungkin sudah di dor mati kalau sampai ada yg bawa2 kerbau. terlalu lunak presiden kita yg sekarang, tidak bisa menjaga kehormatannya.
    makin senang rakyat nya menghina, karena lebih mudah menghina daripada memuji..
    hehehehee🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s