TITIK (2-lanjutan)


Teringat ketika OSPEK di salah satu perguruan tinggi negeri di Jogjakarta. Waktu itu di Gugus ‘Justicia’ atau di Fakultas Hukum, Ada sebuah sesi permainan yang salah satu isinya diminta untuk menggambarkan sebagai makhluk Tuhan, yang menarik bagi saya ada seorang teman namanya Sintong, dia menggambarkan dengan sebuah bulatan kecil yang hampir tidak terlihat, ya sebuah TITIK.

Pernah juga melihat sebuah visualisasi di TV. Dalam sebuah video digambarkan apabila kita duduk di samping sebuah danau yang luas dan indah, dilihat dari jarak 10 m dari atas tubuh kita masih akan kelihatan, dilihat dari 100 m dari atas tubuh kita akan semakin kelihatan kecil dan yang keliahatan adalah danaunya, naik lagi dari jarak 1000 m, dan seterusnya, maka berawal dari tubuh yang kita banggakan ini terlihat jelas samapi hanya kelihatan sebuah TITIK dan akhirnya tidak terlihat sama sekali. Begitulah gambaran sebenarnya seorang manusia dihadapan Tuhan. Hanya sebagai bagian yang sangat kecil dari seluruh jagad raya dengan berjuta-juta galaksinya. Tidak ada yang  bisa disombongkan dan memang tidak pantas atau berhak untuk menyombongkan diri. Apa yang tadi dibangga-banggakan di dunia ini akan ditinggalkan.

 

TITIK, sebuah kalimat akan tersusun dengan baik dengan adanya dia. Sebagai akhir dari sebuah kalimat untuk memulai kalimat yang  baru. Apalagi dalam bahasa pemrograman komputer, sebuah TITIK-pun akan sangat berharga, kurang atau lebih sebuah TITIK akan mempengaruhi jalannya program, bahkan bisa membuat program yang dibuat tidak berjalan.

TITIK adalah gambaran dari sesuatu yang kecil atau sesuatu yang sepele.  Walaupun hanya sesuatu yang dianggap kecil atau sepele jangan pernah untuk meremehkannya. Kalau sudah jadi orang besar jangan pernah meremehkan orang kecil (wong cilik), bisa jadi kesuksesan yang kita dapatkan karena do’a atau kebaikan-kebaikan orang-orang yang kita anggap kecil di sekeliling kita. Mungkin ada teman kita yang tanpa kita mengetahui dengan tulus mendoakan. Berhati-hatilah dengan yang kecil, karena orang bisa tergelincir bukan karena batu besar tapi karena kerikil yang dianggap kecil. Waspadalah…waspadalah…🙂

Wallahu’alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s