TENTANG CINTA…


Wahai hamba Allah, betapa seringnya engkau mencintai makhluk dan menghampirinya, dan alangkah alangkah jarangnya engkau mencintai Yang Maha Benar. Padahal jika dibukakan untukmu pintu cinta kepada Allah niscaya engkau lihat keajaiban-keajaiban, ngkau mendapatkan keridhaan Allah. Dan yang dimaksud cinta kepada Allah itu adalah mentaatinya. Dua rakaat di tengah malam adalah cinta. Membaca Al-Qur’an adalah cinta. Menengok yang sakit adalah cinta, shalat jenazah adalah cinta, sedekah kepada orang-orang miskin adalah cinta, pertolonganmu kepada saudaramu yang muslim adalah cinta, keterlibatanmu dalam proyek sosial adalah cinta, menyebarkan ilmu adalah cinta, dan membuang duri dari jalanpun adalah cinta.

Sebagaimana pedang tidak bisa perang kecuali dengan pegangan kuat, begitu pula amal shaleh tidak akan pernah ada kecuali dari seorang mukmin yang ikhlas dalam mengerjakan dan memenuhinya, dan tidak ada ibadah sebagai ungkapan rasa cintamu kepada Allah ketimbang dzikir kepada Allah secara tulus, Karena dzikir bisa dilakukan oleh orang jompo sekalipun, oleh orang sakit yang berbaring tak kuasa berdiri, ruku dan sujud, oleh orang yang sibuk bekerja dan orang yang bermalasan terbaring di kasurnya. Allah berfirman: Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring (QS. Al-Nisa: 103)
Ketahuilah, barangsiapa mencurahkan seluruh cintanya kepada Allah, maka Allah akan memberi kepadanya minuman kemurahan. Tetapi yang paling aneh, masih ada saja orang yang senang bersahabat dengan nafsunya dan mencintainya, padahal kejahatan tidak datang kecuali darinya. Pada saat bersamaan ia pun meninggalkan persahabatan dengan Allah dan percintaan dengan-Nya, padahal tidak datang kebaikan kecuali dari-Nya. Barangsiapa ingin berjalan menuju Allah maka kuatlah tekad kepada-Nya.
Jika ditanya tentang bagaimana menjalin persahabatan dengan Allah, maka ketahuilah bahwa menjalin persahabatan dengan segala sesuatu adalah dengan menuruti sesuatu itu. Maka bersahabat dengan Allah adalah dengan menuruti segala titah, menjauhi segala larangan-Nya dan bertawakal kepada-Nya dalam segala keadaan. Begitu juga bersahabat dengan dua malaikat adalah dengan mendiktekan kebaikan-kebaikan kepada mereka, dan bersahabat dengan kitab dan Sunnah adalah dengan mengamalkannya, bersahabat dengan langit adalah dengan bertafakur tentangnya, dan bersahabat dengan bumi adalah dengan mengambil pelajaran dari apa yang dikandungnya. Tetapi tidak termasuk kewajiban persahabatan adalah “melihat dan menyaksikan (Allah)”.
Dengan demikian, makna dari persahabatan dengan Allah adalah persahabatan dengan bantuan nik.mat-Nya. Maka barangsiapa mensahabati nikmat dengan syukur dan mensahabati ujian dengan sabar, mensahabati perintah dengan pengagungan kepatuhan, dan mensahabati larangan dengan menjauhi dan jera dengannya, dan mensahabati ketaatan dengan ikhlas di dalamnya, dan mensahabati Al-Qur’an dengan bertafakur. Barangsiapa yang melakukan itu semua maka ia telah bersahabat dengan Allah. Lalu jika mungkin terjalin suatu persahabatan mungkin pula terjalin tali kasih.

Saudaraku, janganlah matahari menyoroti di harimu sampai engkau memperlakukan Allah seperti perlakuan orang yang jujur, ikhlas dan cinta. Karena itu, besedekahlah setiap hari walau dengan seperempat dirham, sehingga Allah mencatatmu ke dalam daftar orang-orang bersedekah, dan bacalah Al-Qur’an setiap hari walau satu ayatpun hingga Allah mencatatmu dalam daftar orang-orang yang membaca, dan shalatlah di malam hari walau hanya dua rakaat hingga Allah mencatatmu bersama orang-orang yang menghidupkan malam.

Janganlah engkau secara salah mengatakan bagaimana mungkin orang yang hanya memiliki makanan pokok untuk satu hari saja bisa bersedekah. Allah berfirman: Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanyo. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekadar) spa yang Allah berikan kepada nya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan (QS Al-Thalaq [65]: 7).
Dan perumpamaan seorang miskin yang diberi sedekah oleh engkau adalah seperti binatang ternak yang membawa bekal akhiratmu. Maka, tanggunglah orang-orang miskin sekehendakmu maka engkau akan mendapatinya di depanmu di akhirat kelak.

Tuhan telah memberimu segala ciptaan dan kebaikan, tetapi engkau adalah hamba pembangkang, tidak tahu diri dan tidak bersyukur. Maka perumpamaan engkau adalah seperti anak kecil dalam buaian ibunya. Setiapkali bergerak ia tertidur, dan engkau pun setiap kali ditambah kebaikan engkau bertambah berpaling. Jika saja raja mengirimkan untukmu jubah kehormatan niscaya engkau segera datang mengetuk pintunya untuk mengucapkan syukur kepadanya dan agar ia memuji engkau, maka hendaklah engkau beranjak kepada Tuhanmu Yang Maha Pemberi nkmat. Dan tinggalkanlah orang yang tidak berkuasa memberi manfaat kepada selain dirinya. (Ibnu Athaillah As Sakandary)

4 thoughts on “TENTANG CINTA…

  1. Subhanallah,,,,
    betapa besar cinta-Nya
    Namun tidak bersykurnya aku sebagai hamba-Nya T_T

    “Nikmat Tuhan yang manakah yang engkau dustakan?”

  2. Kapan cinta itu datang tiada pengetahuan diri atasnya. Namun saat ia menjemput, kuingin seorang hadir tuk membuatku kian dekat dengan Robbku.
    Rohman, aku amat mencintai-Mu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s