Komsumtifisme Memancing Kriminalitas [tren pembunuhan meningkat]


Image

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Judul diatas adalah Headline KOMPAS hari ini (Rabu, 6 Agustus 2008).

Komsumsi memang ada etikanya, atau disebut ‘etika konsumsi’. Bagaimana etika konsumsi kita? bisa kita lihat sendiri. Harus dibedakan antara ‘need’ dan ‘want’. Apa pertimbangan awal dalam membeli/belanja, apakah hanya karena ‘keinginan’ (want) atau memang karena ‘kebutuhan’ (need). Dalam agama Islam juga dianjurkan untuk berhemat, disebutkan bahwa ‘yang mubadzir itu dari syetan’. Kalau kaki cuma sepasang kenapa harus punya sepatu 10 pasang kata Aa Gym.

Biasanya orang yang melakukan tindakan kriminal kelas berat (misal korupsi milyaran) saya yakin tingkat konsumtifnya juga tinggi. Mafia-mafia yang di DPR suka menipu atau yang menyengsarakan orang lain untuk kepentingan pribadi saya pikir juga mempunyai tingkat konsumtif yang tinggi, bahkan hanya untuk hiburan saja menghabiskan jutaan, maaf, belinya saja perempuan (sudah jadi rahasia umum).

Kasus- kasus kriminalitas banyak beralasan karena faktor ekonomi (kecenderungan motif ekonomi dan budaya konsumtifisme saling bertautan memancing praktik kriminal). Nilai-nilai hidup yang sejati dalam kehidupan bermasyarakat sudah mulai tereduksi. Orang semakin mudah membunuh, selain kuantitas yang meninggi kualitas pembunuhan juga semakin nekat, kejahatan cenderung semakin “berkualitas”, dilakukan terorganisasi dan terencana. Kejahatan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup, bukan kebutuhan mendasar yang mendesak.

Perubahan tatanan sosial yang makin materialistik, rapuhnya keluarga, minimnya kesempatan berekreasi, menguatnya individualisme [terutama di kota besar] menjadi lahan subur bagi kriminalitas. Hal tersebut juga menyebabkan meningginya ketegangan individu yang jadi mesiu praktik kriminal.

Berikut ini kalimat bjaksana terakhir di artikel KOMPAS tersebut : “Sebenarnya nilai-nilai itu tadi sederhana…..‘ambil segala hal secukupnya dan berbagi dengan sesama’,” ujar Thamrin.

Jaga diri dan keluarga dari menjadi ‘objek’ atau ‘subjek’ kriminalitas. Pertahankan nilai-nilai sejati hidup dalam keluarga, lingkungan terdekat dan jangan lupa BERDO’A memohon perlindungan setiap saat.

7 thoughts on “Komsumtifisme Memancing Kriminalitas [tren pembunuhan meningkat]

  1. “Jika anda BENAR-BENAR ingin merubah kondisi finansial sekarang ini… maka SEGERA LAKUKAN TINDAKAN! Yang anda temukan di sini adalah salah satu cara PALING SEDERHANA untuk meraih UANG dan segala impian anda!”
    INGIN TAHU RAHASIANYA KUNJUNGI :
    http://rudyindrasakti.wordpress.com

  2. manusia itu terdiri dari akal dan nafsu ketikanafsu berkuasa maka itu semua terjadi dan tidak peduli yang sedikit atau banyak ketika berada di tempat yang tepat maka dia yang berkuasa. keinginan adalah sumber dari segala petaka benar gak pak ??
    tapi akankah kita dilindungi atau dapat melindungi diri kita dari godaan nafsu hanya Allah yang bisa menolong kita.

  3. Pingback: Jaman Edan! Yen ra Edan ra Keduman « mA$ Fajar Bl0g

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s