Makin Memberi Makin Bahagia


Sebuah artikel yang saya baca di Koran Tempo tanggal 2 Juni 2008. Ada sebuah penelitian yang menyatakan kalau orang itu akan semakin bahagia jika semakin memberi. Memberi tidak harus dalam bentuk materi (uang,hadiah barang) tetapi juga bisa dalam bentuk tenaga (pertolongan), nasehat/perkataan. Dalam agama Islam juga disebutkan “Orang yang paling mulia adalah yang paling bermanfaat”, bisa diartikan juga bagaimana orang bisa bermanfaat jika ia tidak pernah memberi.

Dalam penelitian tersebut disebutkan jika orang lagi jenuh/bete/bosan di rumah, maka disuruh keluar dan membantu apa saja ke orang lain, maka stres/bete-nya akan hilang. So kalau anda ingin bahagia maka berilah orang lain sesuatu yang membahagiakan [termasuk saya ;-)= ]. Sudah hukum alam orang itu akan bahagia ketika ia mendapat sesuatu, tetapi orang akan lebih bahagia ketika ia dapat memberi sesuatu….

Berikut ini artikelnya :

“Sejauh mana kita sudah menuai kebhagiaan dalam hidup? Rasa cinta dan rasa nyaman dalam keluarga agar dapat kukuh dalam menghadapi konflik serta masalah ekonomi sering menjadi indikator; termasuk tentu saja bersyukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa.

Tahukah anda bahwa orang-orang yang secara sukarela kerap meringankan penderitaan atau membantu sesama, bahkan dalam hal-hal kecil, tampak lebih bahagia dan punya hidup penuh arti? Begitulah diantara kesimpulan Konferensi Internasional Mengenai KEbahagiaan yang di gelar di Sidney, Australia.

Mengutip sejumlah studi, Stephen Post, profesor biotik dan filosofi di Case Western Reserve University, Cleveland, telah membuktikan hal itu. “Ketika saya sendiri dan bosan di rumah, beliau selalu bilang,’Stevie, kenapa kamu tidak keluar dan mengerjakan sesuatu buat orang lain?” Lalu saya keluar menyebrang jalan dan membantu orang lain mengikatkan atau mengangkat kapal dari air,” Post berkisah. “Itulah kemampuan bertindak ringan tangan yang berarti buat ornag lain.”

Post yang juga mengepalai Institute for Research on Unliimited Love di sejumlah fakultas kedokteran di Australia menjelaskan, riset kontemporer menunjukkan sebuah hubungan yang sangat dalam antara memberi, altruisme dan kebahagiaan.

Contohnya, sebuah study teranyar tahun lalu yang memperlihatkan bahwa para eksekutif yang memberikan bonus mereka untuk membantu sesama menuai angka kebahagiaan lebih besar ketimbang mereka menyimpan erat-erat uang ekstra mereka. Terbukti, pelit justru bisa menyulut ketidakbahagiaan.

Begitu pula para mahasiswa yang mendermakan uang US$ 20 per orang dalam sebuah eksperimen merasakan tingkat kebahgiaan lebih tinggi tatkala memberikannya kepada mereka yang membutuhkan daripada menghabiskan uang itu sendiri.

Data lain menunjukkan derajat ketenangan hati yang lebih besar dirasakan para pecandu alkohol yang menjalani 12 langkah dalam program bertajuk “Alcoholics Anonymous” yang rela membantu pecandu lainnya.

Bahkan para sukarelawan juga menampakkan pengalaman sebagai individu yang “gampang  membantu” terwujud dengan terlepasnya kelenjar endhorphin – senyawa yang bisa menimbulkan rasa nyaman- di tubuh mereka.

Pada 1999, pakar ekonomi peraih hadiah Nobel, Daniel Kahneman, mendemonstrasikan hal itu lewat studinya mengenai psikologi hedonis di Princeton University. Dia menyebutkan bahwa apa yang kita pikir bakal membuat kita senang, seperti terjaminnya keamanan lewat level pendapatan tidak berkorelasi secara positif dengan level kebahagiaan.

Sebaliknya ada banyak studi tentang apa yang membuat kita tidak bahagia. Ilmu pengetahuan kini terus menguji apa saja yang telah terjadi dengan menggunakan psikologi positif dan berfokus pada ide-ide positif dan emosi.

Sementara itu, Martin Seligman, yang dikenal sebagai bapak psikologi Positif di University Pennsylvania, AMerika Serikat, menyebutkan bahwa memiliki anak-anak adalah kebahagiaan yang baik. Hal itu kontras dengan para pembicara lain yang mengutip riset bahwa menonton televisi atau makan membuat orang lebih bahagia daripada menghabiskan waktu dengan anak-anak mereka.

Profesor Seligman memaparkan sejatinya kebahagiaan tak hanya tentang kesenangan. Kebahagiaan itu meliputi kehidupan yang sibuk dan penuh arti, yakni seorang menggunakan kekuatan dan kebaikan mereka untuk melayani “sesuatu yang lebih besar” ketimbang mereka sendiri.###

2 thoughts on “Makin Memberi Makin Bahagia

  1. assalamualaikum

    artikelnya bagus juga pak!!
    Soalnya sekarang saya lagi bosen dan jenuh. Mungkin salah satu cara untuk mengatasinya dengan berusaha untuk membantu sekitar kita dan berusaha untuk lebih care terhadap orang-orang di sekitar kita.

    Memang betul ,,, Berbagi itu sangatlah menyenangkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s