Tips Interview/wawancara


Yang umum aja ya.
Ada beberapa metode interview tergantung fungsinya. Interview untuk
rekrutment tentu berbeda yang digali dibandingkan interview untuk
assessment promosi/rotasi/ demosi atau pun exit interview bagi pejabat
yang mau keluar perusahaan.
Interview rekrutmen bagi new fresh entry dengan yang pro-hire pun
berbeda. Untuk interview fungsi rekrutmen bagi new fresh entry,
biasanya dibagi 2 tahap. 1) Interview oleh psikoanalis sebagai bagian
dari proses seleksi. Serta 2) Interview oleh user sebagai fit and
proper test. Berapa banyak sub interview dari kedua macam interview
tersebut juga tergantung dari seberapa besar dan kompleks organisasi,
serta apakah si interviewer di-outsource ataukah internal.
Interview oleh psikoanalis biasanya banyak menggali tentang dimensi
dasar sesuai kebutuhan posisi vacant. Misalnya: dimensi `sense of
business, agresifitas, stress management, dll’ dari calon pegawai
untuk posisi sales yang dalam pekerjaannya membutuhkan dimensi
tersebut. Atau dimensi `sistematic, fast learner, quick problem
solver, tiddy work’ dari calon pegawai untuk posisi planning-product-
inventory-control (PPIC).
Karena objective akhir dari interview rekrutment adalah menemukan
kandidat yang cocok untuk kebutuhan sebuah posisi, maka hal yang
paling perlu dipersiapkan dari calon kandidat hanyalah `menjadi diri
sendiri’. Kenali dirimu-kenali posisi yang disasar, seribu interview-
seribu kemenangan. Demikian menurut penasehat perang kaisar cina:
Tsun-tzu.
Tidak ada gunanya menjadi orang lain. Kalau tidak suka suasana high
competitive di dunia penjualan, tidak usah menyasar posisi sales.
Kalau tidak suka berhubungan dengan orang, jangan menyasar posisi
yang membutuhkan orang lain untuk keberhasilan kinerja.
Menjadi diri sendiri, akan meningkatkan rasa percaya diri. Rasa
percaya diri yang tinggi, akan mengurangi grogi, menambah vitalitas,
dan yang terpenting, membantu si interviewer menyelesaikan tugasnya
yaitu menemukan kandidat yang paling tepat.
Namun karena interviewer juga manusia, punya hati-punya rasa, maka
tidak menutup kemungkinan subjectivitas interviewer akan mempengaruhi
hasil report candidate review; maka setelah benar-benar- benar
mengetahui kemauan diri atas posisi yang akan disasar, perlu untuk
mematut-matut diri dan melakukan persiapan yang matang sebelum
interview.
Persiapan perlu dilakukan jangan sampai hal-hal yang sepele dapat
menimbulkan persepsi salah tangkap oleh si interviewer. Untuk
pekerjaan di pabrik misalnya, jangan sekali-kali terlambat datang
dari jadwal. Pekerjaan di pabrik membutuhkan pekerja yang disiplin.
Untuk pekerjaan engineering misalnya, pakailah pakaian yang layak
untuk seorang engineer. Jangan menggunakan ballpoint Montblanc
meskipun palsu, cukup ballpoint merek TOP dengan warna-warni tinta
itu, kalau perlu bahkan kenakan helm proyek. Untuk engineer cukup
pakaian lengan pendek putih polos berdasi. Berpakaian lengan panjang
perlente untuk posisi engineering memberi kesan anda enggan melakukan
pekerjaan berkeringat dan kotor di lapangan. Untuk posisi sales lain
lagi, anda malah harus perlente dan `menyala’. Rambut digatsby,
sepatu mengkilat. Peripheral seperti HP dan cincin berlian terkadang
membantu memberi kesan sejahtera. Banyak perusahaan sukses lebih suka
mempekerjakan orang yang sejahtera ketimbang orang susah. Orang susah
menyeret banyak masalah.
Selain mengetahui organisasi yang disasar, mengetahui background
interviewer juga merupakan ice breaking yang baik. Saya pernah
disasar oleh head hunter untuk sebuah perusahaan distribusi komputer.
Ketika saya tahu sang direktur yang akan menginterview adalah lulusan
Achen, maka saya cari info sebanyak-banyaknya tentang Achen. Saya
singgung prestasi lulusan TN yang alumni Achen. Maka suasana
interview dengan sang direktur itu menjadi lebih rileks. Suasana
rileks membantu kita menjadi diri sendiri. Usai interview beliau
mengantar sampai ke parkiran mobil, rupanya beliau juga pingin tahu
mobil apa yang saya gunakan ke kantornya sehingga dapat melakukan
kalkulasi yang lebih cermat jika ingin meng-hijack.
Jangan lupa bahwa proses interview bukanlah proses searah. Berikan
info yang seperlunya apabila ditanya. Dan bertanyalah apabila diberi
kesempatan bertanya. Bertanya juga butuh persiapan. Maka buatlah list
pertanyaan yang stratejik, jangan menanyakan pertanyaan remeh-temeh
yang asal nanya. Tidak semua pertanyaan baik, kecerdasan seseorang
dapat dilihat dari pertanyaannya.
Pada sebuah kesempatan interview, ketika saya diberi kesempatan
bertanya oleh seorang eksekutif India yang akan menerjuni dunia
otomotif Indonesia, saya bertanya mengenai berita miring di koran
tentang konspirasi perusahaan tersebut dengan partai politik terbesar
di negeri ini. Sang eksekutif tercekat dan menjawab: “Never read
Indonesian newspaper. Too many garbage news”, demikian selorohnya.
Maka detik itu juga saya putuskan bahwa saya bukanlah kandidat yang
cocok dengan model management yang membatasi budaya baca karyawannya
tersebut. Beberapa bulan kemudian saya baca di koran bahwa kakak sang
eksekutif tersebut terjun bunuh diri dari lantai 7 di sebuah
apartemen di Jakarta.
Interview adalah proses verbal. Karena itu berbahasalah dengan bahasa
interviewer yang baik. Meski anak-anak muda jaman sekarang lagi
seneng-senengnya pakai HTTP dan C++, tapi jangan menjawab bahasa
Jepang dari si interviewer dengan bahasa Java. Selain juga sok,
harakiri itu namanya. Dulu menjelang lulus nuklir saya sering ke kost-
kost-annya Conly Pattikawa (TN92?) untuk berlatih interview in
english.
Meski demikian interview juga bukan hanya masalah verbal. Komunikasi
dapat dilakukan melalui bahasa tubuh. Mainkanlah olah tubuh anda.
Diam adalah juga komunikasi. Kadang berdiam sejenak diperlukan untuk
memberi kesan seolah-olah mikir dan serius. Gunakan semua panca
indera untuk memancar dan menangkap sinyal. Bahkan indera ke-enam.
Dari semua panca indera, yang paling memancarkan energy menurut
Newton adalah mata. Maka jaga terus kontak mata. Tidak usah malu
beradu pandang. Apalagi kalau interviewernya cantik. Jangan sia-
siakan kesempatan memandang makhluk cantik itu. Tapi sembari
memandang, jangan pernah berpikir jorok. Dia bisa tahu dan dapat
berhak memberi interview report yang tidak kita inginkan.
Dua bulan lalu pada sebuah acara di Denpasar, saya mendatangi antrian
ramalan tarot. Saya tidak tertarik untuk diramal. Saya tertarik
karena si peramalnya cantik. Ketika dia membagi kartu tarotnya, saya
sudah memperhatikan tangannya yang mijil mentimun, bibirnya yang
seksi berlipglos pink rasa permen karet, kumisnya yang tipis dan
matanya yang cemerlang. Rata-rata orang lain diramal selama setengah
jam. Saya protes karena baru 15 menit sudah diusir. “Shine of your
eyes, tell me everything”, gumamnya ketika saya keluar tenda. Canggih
juga tuh cewek, bisa selain bisa ngeramal rupanya juga bisa ngebaca
pikiran kita.
Last but not least. Jaga kebersihan mulut dan tenggorokan anda
sebelum interview. Saya pernah menginterview orang yang perlente tapi
mulutnya mau busuk banget. Mungkin levernya lagi problem. Orangnya
cukup prestatif, mungkin cocok dengan kebutuhan perusahaan. Tapi saya
tolak karena bau mulutnya audzubillah.
Itu aja dulu ah. Sudah waktunya makan siang. Semoga cukup menghibur.

from: Rafik Mahendra

8 thoughts on “Tips Interview/wawancara

  1. Bang,,, aku barusan ikut psikotest di sebuah perusahaan air minum. Selse psiko test, peserta disuruh pulang. Tapi cuma saya sendiri yg ditawari wawancara dengan user, tanpa melewati wawancara dengan HRD seperti yg abang bilang. kemudian saya dijanjikan akan ditelp lagi karena user-nya sibuk.

    Yg mau saya tanya, apakah itu pertanda baik??? Soalnya saya bingung,,, padahal hasil psikotest saja belum dihitung, kok udah wawancara user. Ibarat lompat, saya lompat dua tahap.
    1. Seleksi dari hasil psikotest
    2. Wawancara HRD.

    Gimana tuh bang??? Apa itu berarti saya udah diterima disitu?

    Bales ya bang, soalnya dalam waktu dekat ini saya bakal di telp. Biar bisa bikin strategi.

    “bisa saja mas Pandu, mgkn ada pertimbangan khusus yg membuat pelaksana tes psikologi/user langsung menentukan pilihan dg melihat anda. Dipersiapkan sj kalo sewaktu-waktu ditelpon….”
    kalo diterima ato blm, biasanya ada interview dg calon atasan dan user, ada tes kesehatan jg. goodluck….”

  2. Tips yg yahud…

    Mau nanya..
    Kalo udah di interview trus dijanjiin kerja tapi keputusan mulainya ga jelas. Katanya “nanti saya hubungi” tapi gak dihubungi juga.
    Gimana tuh?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s