Kakek Curi Uang di Masjid Agung dengan Lidi


“Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya di kuasai oleh Negara dan digunakan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat”

Masih ingat dulu waktu ikut lomba LCT P4 bunyi pasal salah satu UUD 1945 yang belum di revisi. Tapi kalo dilihat berita yang muncul di media masa begitu memprihatinkan, seperti berita di deik.com dibawah ini. Kemiskinan terjadi di negara yang katanya Jamrud Katulistiwa, Gemah Ripah Loh Jinawi dsb… Kekayaan negri ini hanya dinikmati sebagian kecil rakyatnya, di satu sisi ada rakyat yang menghabiskan ratusan ribu bahkan jutaan untuk sekali belanja atau makan, disisi lain ada yang mati tidak bisa makan atau mematikan diri (bunuh diri) karena tidak bisa makan. Ada apa dengan negri ini, sudah begitu jauhkah nilai-nilai kepedulian sosial sehingga orang dah hidup masing-masing, yang kaya/pejabat sibuk memperkaya diri dan mempertahankan jabatannya, hanya mengurusi kepentingan pribadi/golongannya tanpa berusaha tulus ikhlas mengabdi demi kesejahteraan rakyatnya. Sampai kapankah….????

Sekedar cerita kejadian yang pernah saya alami seperti kakek di berita itu, waktu di Bekasi. Waktu itu saya dari Jakarta dalam rangka mencari pekerjaan, perkiraan uang saya cukup untuk PP, tapi ternyata begitu turun di Pintu Tol Bekasi Timur, mau naik angkot ke Bantar Gebang (BTR),uang tinggal seribu, padahal ongkos angkot 2ribu, saya berniat mencari masjid untuk mencari pinjaman uang seribu. Saya dah mengatakan akan mengembalikan uang itu, karena saya tidak punya ATM hanya tabungan, tapi walaupun saya dah meyakinkan akan mengembalikan tidak ada yang mau memimjami uang seribu, (saya berfikir-begitu beratkah hidup di kota ini), untungnya saya ga sampai kepikiran mencuri seperti kakek tadi, saya masih ada pulsa untuk sms teman yang waktu itu kerja di Sanyo Elektronic Indonesia (SEI) di Kawasan Industri EJIP untuk nyamperin saya setelah pulang dari kantor. Sampai malam baru teman datang nyamperin. Sabar…..

25/03/2008 05:48 WIB

Taufik Wijaya – detikcom
Palembang – Kemiskinan di Indonesia benar-benar memprihatinkan. Rakyatnya hampir setiap hari membuat berita yang memiriskan hati.

Selain ada balita yang mati kelaparan, ibu yang membunuh anaknya lantaran tak mampu membiaya makannya, bunuh diri lantaran tak sanggung hidup miskin, mencuri alat pendeteksi gempa, hingga mencuri uang di sebuah masjid, seperti yang dilakukan seorang kakek di Palembang, Sumatera Selatan.

Nama kaket itu Imam (65). Lantaran tidak ada uang buat kembali ke rumahnya di Jalan Musi Raya Kelurahan Sialang, Sako, Kenten, Palembang, dia nekat mencuri uang di masjid Agung, Jalan Jenderal Sudirman Palembang.

Pencurian yang dilakukan si kakek dengan cara mencukil celengan masjid terbesar di Sumatera Selatan yang terbuat dari seng dicat hijau dengan sebilah lidi atau tulang daun kelapa, terjadi Senin (24/03/2008) kemarin.

Aksi kakek itu tertangkap tangan Zulkifli (30) dan rekannya Dedi Kurniawan (24), yang tiduran di dalam masjid seusai melaksanakan salat Zuhur. Awalnya, dia melihat seorang kakek mengotak-atik celengan. Merasa curiga, mereka memantau aksi pencurian itu.

Baru setelah si kakek berhasil mencukil uang Rp 20 ribu, mereka lalu menangkapnya. Kini, Imam ditahan di Mapoltabes Palembang. Di hadapan polisi yang memeriksanya, Imam mengaku tidak punya uang buat ongkos pulang ke rumahnya.

Imam mengaku tidak punya pekerjaan, dan setiap hari ini dia pergi ke pasar buat mencari makan buat dirinya dan istrinya. Kalau lelah, dia mampir ke masjid Agung buat melaksanakan salat. Dan, pencurian yang kali pertama dilakukannya itu membuatnya bukan pulang ke rumah tapi ke penjara. ( tw / gah )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s