Mengapa Saya Jadi Penulis?


Tulisan Indra J Piliang (CSIS)

Tulisan ini saya persembahkan kepada siapapun
yang ingin jadi penulis.

Pendahuluan:
Banyak pertanyaan yang diberikan kepada saya tentang proses kreatif sebagai
seorang penulis. Rata-rata saya menulis 60-70 artikel dalam setahun,
terutama sejak tahun 2001. Artinya sudah terdapat sekitar 300-350 artikel
yang sudah saya tulis. Kalau dijadikan buku kumpulan artikel, sudah bisa
menjadi 7 sampai 10 buku, sesuatu yang belum saya lakukan. Salah satu
“penilaian” saya masuk ke CSIS adalah juga karena produktifitas penulisan
ini.

Lalu, dari mana saya memulai menulis. Yang saya ingat, kebiasaan saya
menulis dimulai lewat catatan harian (1991-1996). Saya sudah menulis sejak
pertama kali menjejakkan kaki di Jakarta pada tahun 1991, beberapa bulan
sebelum hasil Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri diumumkan. Saya mengikuti
UMPTN di Padang, tepatnya kampus Universitas Bung Hatta. Tiga pilihan studi
saya waktu itu adalah Jurusan Meteorologi dan Geofisika Institut Teknologi
Bandung, Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan Jurusan
Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia.
Saya diterima di Jurusan Sejarah FSUI.
Karena pernah memenangkan juara tiga lomba bahasa Inggris di Sekolah
Menengah Umum 2 Pariaman, saya menulis catatan harian saya dalam bahasa
Inggris. Namun, lama-kelamaan, kebiasaan itu saya hilangkan. Ketika menjadi
aktivis kampus, saya terombang-ambing dengan kebencian terhadap Barat,
termasuk hegemoni budayanya. Akibatnya, saya juga membenci bahasa Inggris.
Sesuatu yang dampaknya luas sampai sekarang.
Catatan harian itu mengantarkan saya kepada banyak imajinasi tentang dunia.
Buku-buku yang saya baca, tempat-tempat yang saya kunjungi, orang-orang yang
saya temui, sampai hubungan percintaan yang timbul-tenggelam, menghiasi
catatan harian saya. Semuanya masih tersimpan sampai sekarang. Karena sering
mencatat orang-orang yang ada di sekitar saya, saya menjadi lebih paham
tentang bagaimana cara berpikir mereka. Sebagian dari orang-orang itu
sekarang menjadi terkenal, bahkan jauh sebelum reformasi. Rata-rata para
aktivis dari berbagai kampus, terutama dari UI. Sebut saja Fadli Zon,
Zulkiefliemansyah (sekarang anggota DPR dari PKS), Rama Pratama (sekarang
anggota DPR dari PKS), Nusron Wahid (sekarang jadi anggota DPR dari Partai
Golkar), Mustafa Kamal (sekarang anggota DPR dari PKS), Eep Saefullah Fatah,
Fahri Hamzah (sekarang anggota DPR dari PKS), Wilson (pernah dipenjara
karena dituduh menjadi pelaku Gerakan 27 Juli 1996), dan lain-lain.
UI ketika saya masuk adalah ladang pergulatan intelektual yang sangat
intens. Jurusan saya, misalnya, terbagi kedalam dua garis ideologi: merah
dan hijau. Pertarungan kedua kelompok ideologi ini bukan hanya terbatas pada
wacana, tetapi juga dalam aktivitas kemahasiswaan, termasuk perebutan posisi
dalam lembaga mahasiswa intra kampus. Kalaupun kemudian sejumlah nama itu
akhirnya terus berseberangan ketika di luar kampus, hal itu tidak bisa
dilepaskan dari pengalaman intelektual mereka. Satu kelompok melahirkan
Partai Rakyat Demokratik, kelompok yang lain menjadi anak-anak emas dalam
Partai Keadilan Sejahtera. Namun ada juga yang ikut ke Partai Golkar atau
menjadi sahabat dari para jenderal.
Orang yang saya kagumi kala itu ada empat.
Pertama, Arfandi Lubis (almarhum). Dia senior saya di jurusan sejarah. Dia
pengagum Tan Malaka tulen. Kanker usus yang akut menjadi penyebab
kematiannya. Dari dialah saya banyak berkenalan dengan wacana kiri, lalu
mengoleksi buku-buku kiri yang berwarna merah. Dia juga yang meminjamkan
saya buku Dari Penjara ke Penjara-nya Tan Malaka.
Kedua, Fadli Zon, teman saya satu angkatan dari Jurusan Sastra Rusia.
Talentanya luar biasa, juga jaringan pergaulannya di luar kampus. Dialah
sebetulnya yang “memaksa” saya untuk menulis, ketika dia sudah muncul
sebagai penulis terkenal di zamannya. Sebelum kemudian dikenal sebagai
sahabat Prabowo Subianto, Fadli adalah penulis esai yang bagus, kolom yang
menggelitik, dan makalah yang kaya dengan buku.
Ketiga, Mustafa Kamal. Dialah sosok yang waktu itu mengingatkan saya kepada
Natsir muda. Dalam organisasi, dia banyak memberikan ketauladanan, begitu
juga dalam hal pengayaan keislaman.
Keempat, Eep Saefullah Fatah. Sekalipun berbeda kampus, saya sering ketemu
dalam panggung seminar, baik ketika saya menjadi notulis, moderator, lalu
lambat laun mendampinginya sebagai pembicara. Eep punya kemampuan berbahasa
Indonesia yang sangat baik, juga menjelaskan sesuatu yang rumit dengan
logika yang runtut.
Sebetulnya, jauh lebih banyak lagi kawan, dosen, senior, dan junior yang
mempengaruhi saya. Kampus adalah tempat yang hangat. Selalu saja tersedia
banyak orang-orang baik, jauh lebih banyak dari yang potensial menjadi
jahat. Beragam kisah, ucapan, sampai pertengkaran dan perdebatan dengan
orang-orang itu masuk ke dalam catatan harian saya. Saya menulis sampai dini
hari di dalam kamar kos yang lembab dan kumal. Saya waktu itu adalah anak
muda yang kurus kering, berpenyakitan, miskin, dan sering mengenakan pakaian
yang tidak layak. Kerah baju saya – yang diingat oleh pacar yang kemudian
menjadi istri saya – selalu saja berlubang saking lamanya kena keringat dan
tidak diganti.
Kenapa saya menulis catatan harian? Terus terang saya juga terpengaruh oleh
tiga buku harian. Pertama, Catatan Seorang Demonstran-nya Soe Hok Gie. Buku
ini betul-betul menjadi kumal, penuh catatan pinggir dari saya, lalu hilang
dan saya beli lagi. Kedua, Dari Penjara ke Penjara Tan Malaka. Pengalaman
membaca buku ini kadang bercampur dengan kecemasan. Bagaimana tidak? Buku
ini adalah buku terlarang waktu itu, sehingga kalau membacanya sedapat
mungkin tidak ada yang tahu. Ketiga, Pergolakan Pemikiran Islam Ahmad Wahid,
salah satu peletak dasar dari liberalisme Islam di kalangan anak-anak muda
Himpunan Mahasiswa Islam. Dari buku-buku yang saya baca dan koleksi, ada
sejumlah teman dekat yang menyebut saya “Hijau Semangka”: di luarnya hijau,
tetapi di dalamnya merah. Yang jelas, saya tidak dalam posisi “ideologis”
tertentu. Saya hanyalah anak rantau, baik dalam artian fisik, atau
pemikiran.
Dengan modal mesin tik bekas yang saya beli di Manggarai, Jakarta Selatan,
tiap malam selalu diisi dengan tak-tik-tok di kamar kos saya di kawasan
Lenteng Agung. Semula, saya menulis apapun dengan tangan, lalu saya
pindahkan ke kertas putih dengan mesin tik kalau ada uang untuk membeli
kertas dan tinta. Sering sekali ketikan itu tidak bisa dibaca, saking
tipisnya tinta yang digunakan. Dari sana lahir puisi, cerita pendek, sampai
satu dua novel yang tidak rampung-rampung. Saya tidak tahu kemana semua yang
saya pernah tulis itu sekarang, karena seringnya pindah kos. Harta berharga
yang pernah saya miliki, lalu kalau teringat selalu menimbulkan penyesalan.
Menjajakan TulisanSemula, hanya teman yang paling dekat yang tahu saya punya
catatan harian, kumpulan puisi, sampai cerita-cerita pendek. Aktivitas yang
semakin banyak di luar kuliah, pada akhirnya memaksa saya untuk menulis
lebih “ilmiah”. “Kampus” pertama saya dapatkan dalam Kelompok Studi
Mahasiswa UI Eka Prasetya. Di sinilah saya belajar penelitian di luar
penelitian sejarah. Di KSM UI ini juga saya tampil sebagai notulis,
moderator, akhirnya pembicara. Ketakutan saya untuk berbicara di depan orang
banyak mulai pelan-pelan pudar. Sejak kecil sampai sekolah menengah saya
memang punya hambatan mental, selalu berkeringat dingin dan berdebar-debar
ketika hendak berbicara. Saya gagap. Tapi ayah saya membalikkan dengan
kalimat: “Kamu gagap karena otak kamu lebih cepat berpikir, ketimbang mulut
kamu mengucapkannya! “
“Kampus” kedua saya adalah pers mahasiswa, yakni Suara Mahasiswa UI dan
tabloid Ekspresi FSUI. Saya ingat, laporan saya sebagai reporter tentang
HIV-AIDS ditolak oleh pemimpin redaksi Suara Mahasiswa kala itu, Ihsan
Abdussalam – yang kini juga jadi penulis. Saya harus memulai lagi belajar
tentang 5W-1H. Untunglah, ketiga gagal menjadi Ketua Senat Mahasiswa UI,
saya banyak menyediakan waktu untuk KSM UI dan Suara Mahasiswa UI. Karena
sudah senior, saya punya lebih banyak kebebasan untuk “memasukkan” tulisan
atau pemikiran saya ke media kampus itu, kalau perlu mengeditnya langsung di
Macintosh yang dimiliki oleh Suara Mahasiswa UI, agar pasti masuk.
Bantuan paling signifikan datang dari mata kuliah Penulisan Populer yang
diselenggarakan oleh Jurusan Sastra Inggris FSUI. Pengajarnya adalah
sastrawan Ismail Marahimin. Metode pengajarannya unik, yakni para mahasiswa
harus menulis satu per minggu yang akan dipresentasikan dan “dibantai” dalam
jam-jam pelajaran yang membuat bulu kuduk merinding. Banyak mahasiswa yang
hilang di tengah jalan waktu itu, karena takut “dikerjai” oleh sang dosen.
Tetapi, satu hal yang disampaikan oleh Pak Ismail kala itu masih saya ingat.
“Kalau anda lulus mata kuliah ini, itulah modal hidup anda!” Fadli Zon,
Helvy Tiana Rosa, lalu sejumlah redaktur pers sekarang setahu saya lulus
dalam mata kuliah ini. Dua semester saya ikut mata kuliah ini dan keduanya
mendapatkan nilai A. Saya masih tidak tahu, bagaimana mendapatkan kembali
seluruh tulisan yang saya pernah tulis, masing-masing 1 per minggu dalam
satu tahun kuliah bersama Pak Ismail itu. Saya kehilangan copy-nya.
Tulisan-tulisan itu
mulai dari fiksi sampai non fiksi. Saya ingat, ada satu-dua cerpen yang
dipuji oleh Pak Ismail karena menyediakan banyak kejutan.
Pelan-pelan saya juga tampil sebagai pembicara skala kampus. Makalah-makalah
lahir, sebagian besar tentang gerakan mahasiswa. Dari sana juga saya menulis
skripsi dengan tema “Koreksi Demi Koreksi: Aktivitas Pergerakan Mahasiswa
Pasca Malari sampai Penolakan NKK-BKK (1974-1980)” . Pengalaman saya sebagai
aktivis membawa saya kepada pergaulan di luar UI. Paling tidak, selain Fadli
Zon, saya paling banyak mewakili mahasiswa UI kala itu, baik untuk tingkat
jurusan, fakultas atau universitas. Samarinda, Surabaya, Pekanbaru,
Yogyakarta, Malang, Bandung, dan kota-kota lainnya mulai saya singgahi.
Karena jauh dari kampung, saya juga sering menulis surat. Ayah saya adalah
seorang penulis yang baik, dengan tulisan tangan yang indah, turunan dari
ayahnya (kakek saya) yang pernah jadi juru tulis pada masa Belanda. Banyak
hal yang saya perdebatkan dengan ayah saya waktu itu. Selain itu, saya juga
menulis surat kepada pacar saya di kampung, Bengkulu dan Lampung. Saya juga
berkomunikasi lewat surat dengan teman-teman aktivis di sejumlah kota,
termasuk juga dengan seorang mahasiswi Jepang di Jepang dalam bahasa Inggris
yang minim. (Keberadaan sms dan internet sekarang saya kira menjadi unsur
degradasi kemampuan penulisan para mahasiswa dan anak-anak sekolah).
Saya mulai merambah koran dan tabloid umum ketika ditawarin menulis di
Tabloid Swadesi yang dikelola oleh teman saya yang jadi reporter di sana,
Bayu. Boleh dikatakan dari sanalah saya menjadi penulis umum, terutama
tentang gerakan mahasiswa. Tabloid itu pada akhirnya bubar akibat perpecahan
dalam tubuh PDI, karena memang afiliasinya dengan PDI. Honor menulis disana
Rp. 35.000-Rp. 45.000. Tulisan saya juga nongol di Harian Merdeka dan
Tabloid Mutiara milik Suara Pembaruan. Saya masih ingat mendatangi kantor
Suara Pembaruan untuk mengambil honor sebesar Rp. 66.000, lalu Rp.
6.000,-nya dipotong pajak.
Saya juga tetap menulis puisi. Puisi bagi saya adalah kolom tersingkat yang
bisa ditulis. Dalam banyak hal yang tidak bisa dicerna secara singkat, puisi
mewakilinya. Puisi juga bisa “menyimpan” ingatan secara tidak terduga,
karena bahasanya yang tidak tersurat. Dalam sejumlah kesempatan demonstrasi
dan aksi mahasiswa, puisi-puisi saya bawakan. Bahkan, ketika maju sebagai
calon Ketua Senat Mahasiswa UI, saya lebih banyak membaca puisi ketimbang
berorasi menarik mahasiswa untuk memilih saya.
Usai kuliah, tahun 1997, krisis multidimensional menimpa Indonesia. Saya
adalah generasi terakhir para sarjana Orde Baru yang langsung kehilangan
harapan. Banyak lowongan kerja yang membatalkan penambahan karyawan,
terutama di dunia pers dan penerbitan. Cita-cita saya menjadi wartawan tidak
kesampaian. Beban sosial juga melekat, yakni bagaimana mempertahankan hidup
setelah kuliah yang menghabiskan umur dan dana. Apalagi saya banyak dibantu
oleh kakak-kakak dan adik-adik saya ketika kuliah, selain mendapatkan
beasiswa mahasiswa berprestasi dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
sebesar Rp. 50.000 per bulan.
Semula, saya bekerja di Surat Kabar Kampus Warta UI, lantai 7 Rektorat UI.
Bersama Pak Rahmat, saya menerbitkan edisi-edisi khusus berdasarkan
kebutuhan fakultas. Uang yang saya dapatkan tidak menentu, karena memang
tidak ada gaji tetap. Rata-rata penghasilannya Rp. 150.000 sampai Rp.
300.000,- per bulan. Tetapi pekerjaan itupun tidak bertahan lama, karena ada
kebijakan untuk tidak lagi menerbitkan SKK Warta UI. Nasib membawa saya ke
jalanan, yakni bergabung dengan PT Deka Megahrani Citra, sebagai interviewer
produk-produk konsumsi, seperti makanan dan minuman. Penghasilan didapat
berdasarkan berapa banyak responden yang kita dapat. Jumlahnya dikumpulkan
per bulan, kadang kurang dari Rp. 100.000,- per bulan, kadang lebih.
Dalam era reformasi yang bergejolak itu, saya dan teman-teman UI yang
membantu Keluarga Besar UI menerbitkan juga tabloid dan jurnal, bersama
teman saya Rahmat Yananda (sekarang jadi konsultan bisnis), Andi Rahman
(sekarang dosen sosiologi FISIP UI), Dandi Ramdani (sekarang sedang menempuh
pendidikan S-3 di Belanda), Padang Wicaksono (sekarang sedang menyelesaikan
studi S-3 di Jepang), Tirta Adhitama (sekarang sedang menyelesaikan studi
S-3 di Jepang) dan Muhammad Fahri (sekarang jadi pebisnis). Arus reformasi
yang bergulir itu menyediakan waktu bagi kami untuk mengeluarkan apapun guna
mengkritisi rezim yang mulai keropos. Sikut-menyikut antar kelompok begitu
kentara, kadangkala disertai ketakutan akan dikeroyok atau diculik.
Saya terlibat dalam aksi-aksi itu sebagai alumni, termasuk berada di Gedung
DPR MPR ketika diduduki oleh mahasiswa tanggal 20 Mei 1998. Buku harian saya
dipenuhi berlembar-lembar cerita, termasuk ketika pecah kerusuhan tanggal
12-13 Mei 1998. Saat kerusuhan meledak, saya berada di Universitas Trisakti
untuk memberikan penghormatan kepada para mahasiswa yang ditembak sehari
sebelumnya. Dari sana saya saksikan betapa kelompok yang paling berani
menghadapi polisi dan tentara ternyata bukan mahasiswa, melainkan para
pelajar. Sebelum siang, kerusuhan tidak terlalu parah. Tetapi setelah para
pelajar pulang sekolah, mereka berada di barisan depan tanpa rasa takut
berhadapan dengan polisi dan tentara. Kami yang berlindung di dalam kampus
hanya bisa mengusap air mata terkena gas air mata.
Saya kembali mendapatkan kesempatan menulis ketika bekerja di lingkungan
STIE Pramita, Tangerang. Kebetulan majalah kampus itu membutuhkan tenaga
kerja. Bersama dua sahabat saya, Sugeng P Syahrie dan Luthfi Ihsana Nur,
saya mengelola majalah kampus itu. Lama kelamaan, karena perubahan politik,
Pak Hadi Soebadio yang menjadi pimpinan kampus itu terpilih menjadi Ketua
Dewan Perwakilan Daerah Partai Amanat Nasional Kabupaten Tangerang. Dari
sanalah saya terjun ke politik, yakni dengan menerbitkan tabloid Mentari.
Lagi-lagi menulis menjadi pekerjaan utama.
Lalu saya berkenalan dengan Faisal H Basri, Sekretaris Jenderal Partai
Amanat Nasional. Sejak mahasiswa saya sudah mengaguminya. Dalam waktu cepat,
sayapun bergabung dengan kelompok Faisal H Basri. Sayapun pindah dari
Tangerang, lantas tinggal di Apartemen Rasuna, Kuningan, sebagai markas
kelompok Faisal H Basri. Di apartemen itulah saya belajar politik dalam
artian paling riil, karena berdiskusi dengan genk Faisal yang lain, seperti
Bara Hasibuan, Arif Arryman, Nawir Messy, Sjahrial Djalil, Rizal Sukma,
Rahmat Yananda, Santoso, Rachman Sjarief, Aan Effendi, Tristanti Mitayani,
Abdillah Thoha, Sandra Hamid, Miranti Abidin, dan lain-lainnya. Mereka
rata-rata berpendidikan master dan doktoral, serta berasal dari sejumlah
lembaga think tank berpengaruh seperti CSIS, Econit, dan INDEF. Tugas saya
adalah membikin minum, menyapu lantai, membelikan makanan, dan mencatat
hasil rapat, lalu mendistribusikannya kepada peserta rapat.
Dunia internetpun saya kenali di apartemen Rasuna ini. Saya memasuki
berbagai mailing list, lantas menggunakan nick name, juga berdebat dengan
banyak kalangan. Informasi terbanyak memang akhirnya saya dapatkan lewat
dunia maya ini. Boleh dibilang saya selalu tidur terlambat, karena
menggunakan internet sampai dini hari. Koran-koran sudah saya baca dini hari
itu di internet, sehingga informasi terbaru selalu saya ikuti.
Karena memang hidup di lingkungan politikus dan intelektual, sayapun
memberanikan menulis. Tulisan pertama dan kedua saya kirimkan ke Kompas.
Tulisan ketiga diterima. Semangat barupun muncul, karena Kompas adalah koran
terbesar dan berpengaruh di Indonesia. Tulisan-tulisan lainpun juga masuk ke
Kompas, dan media lainnya. Jadilah saya dikenal sebagai penulis Kompas,
sesuatu yang menjadi magnet bagi siapapun untuk menyampaikan pikiran mereka
kepada saya. Selain menulis, saya juga menjadi semacam asisten politik
Faisal H Basri. Kesibukannya yang luar biasa membutuhkan manajemen. Saya
ditugaskan untuk membantunya, sekalipun untuk mengatur jadwal Faisal
sangatlah rumit.
Kolom Demi KolomAkhirnya, saya menjadi penulis. Produktifitas saya begitu
meluap. Saya juga menjadi generasi pertama penulis kolom di sejumlah website
dengan honor lumayan. Booming internet waktu itu menyebabkan banyak
permintaan atas kolom, terutama kolom-kolom politik. Detik.com,
Berpolitik.com, Lippostar.com, Satunet.com, Indonesiamu. com, dan
lain-lainnya menjadi tempat saya menyalurkan bakat dan kemampuan penulisan
saya. Namun saya juga tetap terus mengirimkan tulisan demi tulisan ke koran
dan majalah.
Karena memang “kontrak” saya dengan kelompok Faisal mau habis, saya akhirnya
melamar pekerjaan ke dua institusi, yakni CSIS dan radio 68h. Kebetulan
Rizal Sukma yang menjadi kelompok Faisal di PAN adalah Direktur Studi CSIS,
begitu juga anggota gank Rasuna lainnya yakni Santoso yang menjadi Direktur
Radio 68h. Ketika saya mulai kehilangan harapan, karena beban kebutuhan
hidup yang mulai Senin-Kamis, nyatanya saya diterima di kedua tempat itu.
Tetapi, atas saran Santoso dan teman-teman lain, termasuk dukungan dari
Faisal, Arryman, dan Bara, saya akhirnya memutuskan untuk bekerja di CSIS.
Saya mulai masuk tanggal 1 Desember 2000.
Dengan status baru sebagai peneliti Departemen Politik dan Perubahan Sosial
CSIS, kesempatan buat saya makin terbuka lebar. Apalagi kelompok Faisal
makin patah arang dengan PAN. Tanggal 21 Januari 2001, sebanyak 16 orang
fungsionaris dan pendiri PAN mengundurkan diri, termasuk saya yang
sebetulnya baru bergabung resmi dalam Departemen Seni dan Budaya DPP PAN
pascakongres PAN di Yogyakarta tahun 2000. Sebagai orang dekat Faisal, saya
punya banyak kesempatan mengikutinya, termasuk dalam rapat-rapat dan
pertemuan-pertemuan penting di luar jabatan saya di Departemen Seni dan
Budaya. Saya juga mulai mengambil tempat sebagai salah satu orang yang
diberi kesempatan mengambil sikap atau keputusan atas apa yang akan
dilakukan oleh kelompok.
Setelah mundur dari dunia politik, sekalipun tetap dikenal sebagai orang
PAN, saya mempunyai ketertarikan mendalam kepada kelompok-kelompok
masyarakat sipil. Karena kelompok Faisal sudah jarang bertemu, saya akhirnya
bergabung dengan sejumlah kelompok masyarakat sipil, antara lain Forum
Indonesia Damai. Ketika banjir melanda Jakarta, saya bergabung dengan
kelompok Satu Merah Panggung Ratna Sarumpaet. Dalam kapasitas sebagai
anggota DPP PAN, saya juga pernah menjadi tim perumus dan penulis akhir buku
Skenario Masyarakat Sipil Indonesia tahun 2010, dimana saya berkenalan
dengan banyak aktifis muda kala itu, seperti Munarman YLBHI. Saya juga
menjadi salah satu deklarator Perhimpunan Rakyat Jakarta untuk Pemberantasan
Korupsi (berantaS). Sebetulnya, simbol “S” dengan huruf besar dalam KontraS
dan BerantaS itu bukan timbul tanpa sengaja, melainkan diidentikkan dengan
Soeharto, sesuatu yang jarang diketahui oleh kalangan luar.
Dan sayapun menikahi kekasih yang mendampingi saya selama 6 (enam) tahun
sejak di bangku kuliah: Faridah Thulhotimah, anak jurusan Ilmu Kimia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UI. Ia menjadi sumber
inspirasi saya, sekaligus kekuatan saya ketika berhadapan dengan begitu
banyak persoalan hidup. Pernikahan saya dihadiri oleh sejumlah aktifis,
peneliti, politikus, dan teman dekat. Mustafa Kamal membacakan doa,
sementara Erry Riyana Hardjapamengkas bertindak sebagai tuan rumah alias
bapak angkat saya. Faisal H Basri menjadi saksi. Biaya pernikahan saya
datang dari kantong-kantong pribadi orang-orang baik itu.
Sebagai aktivis dan peneliti, saya juga menjadi penyiar radio, yakni di
Radio Delta FM dan Jakarta News FM. Karena bergabung dengan Koalisi untuk
Konstitusi Baru yang dikomandani oleh Todung Mulya Lubis dan Bambang
Widjajanto, saya akhirnya berkenalan dengan banyak ahli hukum dan politik
dari berbagai kampus. Saya juga pernah menjadi host acara di Trijaya FM.
Undangan sebagai pembicarapun berdatangan, termasuk di luar daerah. Inilah
dunia yang “menenggelamkan” saya ke dalam pergaulan kalangan civil society
di Indonesia. Sejumlah nama yang hadir di media massa-pun akhirnya saya
kenali satu demi satu. Sayapun juga mengenali Teten Masduki, justru setelah
saya aktif di BerantaS yang merupakan “pecahan” dari Indonesia Coruption
Watch. Dari FID saya kenal Erry Riyana Hardjapamengkas.
Sayapun terus menjadi kolomnis. Sepanjang tahun 2001 saya menulis 67 artikel
atau kolom; tahun 2002 sebanyak 68; tahun 2003 sebanyak 60, dan tahun 2004
naik lagi menjadi 65. Itu yang berhasil saya dokumentasikan, karena memang
ada sejumlah yang lain yang kurang terlacak. Saya juga menulis dalam jurnal
ilmiah, menyumbang tulisan untuk sejumlah buku, dan menulis makalah untuk
seminar dan diskusi. Boleh dibilang kegiatan menulis adalah kegiatan utama
saya. Saya ingat ucapan dosen saya, pak Ismail Marahimin: “Kalau anda lulus
dan mendapatkan nilai A, itulah modal hidup anda.”
Ide TulisanLalu darimana ide-ide tulisan saya. Pertama, tentunya berangkat
dari kegelisahan pribadi. Saya merupakan pribadi yang gelisah. Kalau saya
merasakan sesuatu, biasanya saya mengambil buku kecil mencatat ide-ide saya.
Atau langsung menulisnya saat itu juga. Karena dilahirkan dari keluarga
miskin dan hidup dalam penderitaan di Jakarta, selalu saja saya curiga
kepada penguasa dan kekuasaan. Boleh dikatakan saya mempunyai banyak musuh:
tentara, laskar, partai politik (terutama Partai Golkar), dan lain-lainnya.
Hal inilah yang membuat saya terus memproduksi tulisan-tulisan kritis dan
emosional, terutama kalau arogansi kekuasaan muncul. Ide-ide itu juga lahir
dari semangat penolakan kepada argumen-argumen orang lain. Selama tinggal di
Tangerang, saya terbiasa mengkliping artikel-artikel koran dari penulis
ternama, lantas mencorat-coret pikiran-pikiran mereka.
Kedua, ide tulisan yang bersifat perubahan dan pembaharuan muncul dari
keterlibatan saya di banyak organisasi masyarakat sipil, misalnya: Forum
Indonesia Damai, Koalisi untuk Konstitusi Baru, Gerakan Tidak Pilih Politisi
Busuk, Perhimpunan Rakyat Jakarta untuk Pemberantasan Korupsi, Perkumpulan
Masyarakat Jakarta Peduli Papua, Koalisi Media untuk Pemilu Bebas dan Adil,
Komisi Darurat Kemanusiaan, Kelas Indonesia Alternatif dan lain-lain.
Berbagai pemikiran yang berkembang dalam forum-forum itu saya teruskan ke
media. Apalagi, sebagai orang yang mulai dikenal sebagai pengamat politik,
saya terkadang merasa jengah dengan apa yang dikutip dari wawancara dengan
saya. Biasanya, dari sejumlah wawancara panjang, tampilan di media tidaklah
utuh. Makanya, untuk “meluruskan” -nya dan menampilkannya secara utuh, saya
memutuskan menulis tema dari wawancara yang berangkat dari peristiwa politik
itu.
Ketiga: berasal dari fokus penelitian saya selama di CSIS, yakni menyangkut
otonomi daerah, partai politik, demokrasi dan konflik. Lingkungan pergaulan
di CSIS begitu menyenangkan, karena terdapat banyak nama yang dikenal oleh
publik luas, seperti J Kristiadi, Kusnanto Anggoro, Rizal Sukma, Tommy
Legowo, dan lain-lainnya. Beberapa tugas kantor akhirnya saya rasakan bisa
disampaikan kepada publik. Dari sinilah muncul tulisan-tulisan yang tidak
berdasarkan peristiwa politik, melainkan lebih kepada pengembangan
konseptual atau bahkan hanya sekadar pelipur lara. Tulisan-tulisan ini lebih
reflektif, karena mencoba melihat sesuatu dari luar praktek politik
keseharian.
Keempat, berasal dari fokus pribadi saya, yakni menyangkut tema masyarakat
sipil, Papua dan Aceh. Perjalanan saya ke daerah juga menjadi inspirator,
makanya muncul tulisan soal Samarinda, Pekanbaru, Maluku, Aceh, Papua, dan
lain-lain. Saya selalu ingin mencari tahu ada apa dibalik perlawanan atas
Jakarta. Sesuatu yang saya cita-citakan sejak dulu, yakni bertualang ke
banyak negeri, akhirnya tercapai. Tidak terasa, saya menjelajahi sebagian
besar ibukota provinsi di Indonesia. Hanya Gorontalo, Kendari (Sulawesi
Tenggara), Tanjung Pinang (Kepulauan Riau), Mamuju (Sulawesi Barat) dan
Monokwari (Irian Jaya Barat) yang belum saya kunjungi. Indonesia nyatanya
tidak seperti yang kita baca lewat informasi buku dan media.
Saya juga mendapatkan ide tulisan dari apa yang saya baca. Kadang-kadang
sepotong berita dan kalimat di sesobek koran. Biasanya, kalau saya ingin
menulisnya, tema atau ide itu terus-menerus mendesak saya untuk segera
dituliskan. Kalau saya sudah mulai menulis, biasanya saya melupakan yang
lain. Tetapi saya juga bisa menulis di tengah kebisingan atau pembicaraan.
Kadang, dalam seminar, ketika menjadi pembicara, atau ketika berbicara
dengan orang lain, saya tiba-tiba berhenti dan menuliskan sesuatu di catatan
atau handphone atau XDA saya. Saya takut kalau ide atau potongan kalimat itu
tiba-tiba hilang, karena saya pasti menyesalinya.
Anehnya, kalau saya membaca buku serius atau teoritis, saya justru tidak
akan bisa menulis beberapa hari. Saya akan tenggelam dalam buku itu.
Biasanya kalau ada sesuatu yang terbersit, saya menulis di pinggiran buku
itu, misalnya bagian yang hendak saya kutip untuk makalah atau ide yang
hendak saya pertentangkan dengan apa yang tertulis di buku itu. Makanya,
saya kadang-kadang agak kesulitan untuk “larut” dalam keadaan, karena itu
bisa mematikan saya.
Ide juga bisa muncul dari orang lain, dan ini yang dikritik oleh teman saya
sebagai tidak genuine. Misalnya, beberapa redaktur opini meminta saya
menulis tema tertentu dengan waktu tertentu. Biasanya saya cepat
menuliskannya, karena mengejar deadline. Kenapa bisa cepat? Karena saya
mengikuti perkembangan berita dengan rutin, lalu membangun opini tersendiri
atas berita atau peristiwa itu. Hanya, saya merasa menulisnya tidaklah
penting atau tidak punya waktu. Baru ketika diminta oleh redaktur opini
media massa itu saya merasa, “O, menulis soal ini penting, toh?” Kadang,
karena merasa bosan atau tulisan yang saya kirim lama dimuat atau tidak
dimuat sama sekali, saya berhenti menulis dan menganggap semua hal tidak
penting, kecuali tulisan saya yang lama baru dimuat itu atau yang tidak
dimuat itu.
Struktur PenulisanLalu bagaimana saya menuliskan sesuatu yang “penting” atau
“tidak penting” itu sehingga tersaji di depan publik dalam lembaran-lembaran
koran? Bagaimana struktur penulisan yang baik? Berdasarkan pengalaman,
menurut saya, tulisan yang baik itu harus memuat unsur-unsur berikut.
Pertama, kuat dalam data. Kadangkala saya juga ceroboh dalam hal ini,
terutama menyangkut nama, peristiwa, singkatan, atau bahkan tanggal. Tetapi,
karena peristiwa politik berlangsung cepat, soal data itu juga tidak selalu
akurat ditulis oleh media, karena informasi pagi hari bisa berubah sore dan
malam hari. Tetapi, apapun itu, penulis yang baik hendaknya jangan
sekali-kali memanipulasi data.
Kedua, sedikit teori. Dulu saya sempat menulis dengan cara mengutip buku,
bahkan juga sekarang. Ada kelompok pembaca yang menyenangi jenis ini,
terutama kalau kita mengutip buku atau artikel terbaru berbahasa Inggris,
seperti yang banyak dijumpai di perpustakaan CSIS. Tetapi, lama kelamaan,
saya merasa cara seperti ini tidaklah menarik. Alasannya antara lain,
analisa atau teori dalam buku itu mencakup spektrum atau konteks tertentu.
Teori transisi atau konsolidasi demokrasi, misalnya, tidak sama antara
Philipina, Brazil, Thailand atau Malaysia. Kalau hanya mengambil kesimpulan
akhir dari sebuah buku atau artikel, berdasarkan uraian panjang lebar atas
persoalan tertentu, berarti yang terjadi adalah inplantasi atau
pencangkokan. Dalam soal artikel koran, saya sependapat dengan Bara Hasibuan
betapa rata-rata kolom di Indonesia terlalu berat, reflektif dan teoritis.
Referensi Bara tentunya International Herald Tribune dan koran-koran luar
negeri lainnya.
Ketiga, tidak mendalam, tetapi juga tidak dangkal. Kalau ingin menulis
mendalam, pakai kerangka teori, sebaiknya tulisan itu dikirimkan ke jurnal
atau lebih baik lagi yang ditulis adalah buku, bukan artikel atau kolom.
Yang diperlukan adalah bingkai dari keseluruhan tulisan dan bagaimana
bingkai itu diberi daging opini dan bahkan selimut pendapat. Kalau terlalu
dalam, bisa-bisa tulisan itu malah menyesatkan atau liar kemana-mana.
Makanya, bagi sejumlah kawan penulis opini media, biasanya yang dicari
adalah judul tulisan terlebih dahulu, ketimbang isinya. Tetapi ada juga yang
menjadikan pemberian judul setelah tulisan selesai. Saya menggunakan
keduanya, sekalipun saya lebih senang dan cepat menulis kalau sudah
menemukan judul yang cocok.
Keempat, ringkas. Ringkas bukan berarti padat atau ringkasan. Saya biasanya
kebingungan kalau membaca kolom atau artikel ekonomi yang dipenuhi dengan
angka dan prosentase serta istilah-istilah teknis lainnya. Pembaca koran
yang baik mungkin memerlukan kamus khusus untuk bisa memahami artikel itu.
Tetapi bagaimana bisa anda menyiapkan kamus di terminal bus atau di kursi
pesawat yang terbang jauh di atas langit? Tulisan ringkat bisa memuat unsur
5W-1H, tetapi sekaligus juga mengandung tiga hal: pembuka (angle), isi dan
penutup (refleksi). Tulisan ringkas juga sedapat mungkin menggunakan pilihan
kata populer/sederhana, ketimbang teknis ilmiah.
Kelima, tepat sasaran. Anda ingin menujukan tulisan buat siapa? Kalau saya
menulis agak panjang (1200 karakter, misalnya), biasanya saya tujukan
tulisan itu ke kalangan mahasiswa atau pembaca yang biasa mengkliping
artikel. Tetapi kalau tulisan pendek, dalam pikiran saya langsung tergambar
siapa saja orang yang saya “tembak” dengan tulisan itu. Tentu berlainan
antara tulisan yang ingin ditujukan ke kalangan pengambil keputusan dengan
tulisan kepada khalayak ramai yang ingin “memahami” sebuah peristiwa.
Sebagaimana media mencari pangsa pasar, maka dalam diri penulis mestinya
juga sudah tersedia sejumlah pangsa pasar bagi pembaca tulisan-tulisannya.
Keenam, karakter media. Media tentu juga memiliki visi dan misi. Karakter
masing-masing media berlainan. Saya punya catatan khusus tentang media-media
tempat saya mengirimkan tulisan saya, serta saya gunakan untuk mengirimkan
tulisan saya. Biasanya, saya tidak berpikir untuk menulis sebuah kolom atau
artikel dengan cara sesudah selesai baru dipikirkan mau dikirim kemana.
Ketika menulis, saya sudah tahu tulisan ini ditujukan ke media apa, lalu
secara “otomatis” kalimat-kalimat yang saya bangun juga akan “sebangun”
dengan media itu. Hal ini memang berat, karena karakter penulis bisa-bisa
hilang. Tetapi saya selalu mempunyai sejumlah hal yang menurut saya “khas”
saya, sehingga orang mengenali itu sebagai tulisan saya. Saya sebetulnya
juga berharap bahwa tulisan-tulisan saya dibaca bukan karena saya
penulisnya, tetapi karena ada cita-rasa tersendiri dari tulisan itu.
Ketujuh, sebetulnya boleh ada kutipan (awal, tengah atau akhir tulisan).
Tetapi ini konsep yang sangat klasik. Terkadang saya tidak mengutip, tetapi
memberikan cerita. Kutipan juga seringkali menjadi sempalan dari sebuah
tulisan, karena kalau tidak tepat menempatkannya, bisa-bisa ia menjadi
semacam benalu atau kangker. Kutipan yang baik adalah yang bisa menyatu
dengan keseluruhan tulisan. Dulu saya mengutip lewat wawancara, sekarang
yang makin sering adalah lewat sms. Saya pernah kaget ketika Revrisond
Baswir menulis di Republika dengan diawali oleh sms dari saya. Saya juga
pernah menulis di Koran Tempo dengan kutipan langsung sms dua orang menteri,
tetapi saya tidak menyebutkan siapa menteri itu karena kurang etis.
Sebetulnya apa yang saya tuliskan ini sangat pribadi. Mungkin banyak yang
tidak memahaminya, karena memang keluar dari kerangka umum. Sebelum menjadi
penulis, bertahun-tahun saya membeli buku-buku tentang penulisan, baik
ilmiah atau populer. Banyak teori penulisan yang muncul dalam buku-buku yang
mudah didapatkan di loakan itu. Tetapi, ketika saya menulis, tentu buku-buku
itu tidak ada lagi di meja saya. Sesekali saya memang perlu membacanya untuk
sekadar mengambil jarak atas tulisan-tulisan saya sendiri.
Tips KhususBagi penulis baru atau lama, ada beberapa tips khusus yang saya
rasa perlu, terutama untuk “menembus” media massa mapan. Anda bahkan bisa
menjadi penulis produktif kalau mempraktekkannya. Ketika saya
mempraktekkannya, dulu, saya pernah kaget ketika tanggal 9 bulan itu saya
sudah menemukan 10 tulisan saya di media cetak. Artinya, tulisan saya itu
lebih dari satu dalam sehari. “Kegilaan” itu tidak saya lanjutkan, karena
ada banyak nasehat agar saya bisa menjaga jarak. Apalagi motif saya menulis
kala itu salah satunya uang, karena dari menulis saja saya bisa mendapatkan
Rp. 5 Juta per bulan.
Tips khusus itu adalah, pertama, perhatikan headline atau tajuk rencana
harian/majalah yang bersangkutan. Dari headline dan tajuk rencana itu, kita
bisa membaca kearah mana setting agenda dari media yang bersangkutan. Kalau
anda temukan headline tertentu dan tajuk rencana tertentu ditulis
berkali-kali, tetapi tidak ada juga opini yang ditulis pihak luar, maka
kesempatan masuknya tulisan anda bisa 100%. Saya sering “tertawa” ketika
menemukan kolom atau opini yang tidak terlalu bagus, tetapi tetap dimuat,
karena memang sangat sesuai dengan concern media itu dalam tajuk rencana dan
headlinenya. Kalau perlu, anda kutip tajuk rencana media tersebut, lalu
mengupas dan mengkritiknya.
Kedua, temukan judul yang pas dan ringkas terlebih dahulu. Judul adalah otak
dan otot bagi sebuah tulisan pendek. Sering malah sebuah tulisan dimuat
karena judulnya, sekalipun isinya biasa-biasa saja. Karena memang ditujukan
kepada orang yang mungkin sedang minum kopi atau istirahat, sebuah artikel
pendek akan langsung dibaca ketika judulnya menarik. Isinya bisa apa saja,
tetapi judul sudah menjadi iklan yang luar biasa. Saya sering mendapatkan
komentar atas tulisan, hanya karena judulnya. “Kursi RI 1 untuk Apa,
Jenderal” (Kompas, 29 April 2004) termasuk yang mendapatkan banyak reaksi
positif. Padahal, tulisan itu sempat dirombak dan diganti judul, sekalipun
isinya tidak banyak berubah.
Ketiga, kalau ingin menjadi penulis terkenal, sebaiknya kejar media “besar”
terlebih dahulu, namun jangan berlebihan. Saya kira “teori” kirim 100
artikel sekalipun ditolak gugurkan saja. Untuk apa anda mengirim 100 artikel
kalau semuanya tidak dimuat? Kalau anda betul-betul bertahan dalam susah,
lalu memperbaiki tulisan anda, lantas sekali sebulan mengirim ke media besar
yang sama, saya kira anda akan mendapat tempat. Tetapi jangan lupa, bahwa
dengan cara seperti itu anda sebetulnya harus bersiap-siap untuk
mendiskusikan tulisan anda jauh lebih dalam dari apa yang anda tulis.
Keempat, usahakan menjadi spesialis. Banyak yang menyebut saya bukan
spesialis ilmu tertentu, karena tema yang saya tulis terlalu banyak.
Spesialisasi saya, ya, sebagai penulis saja. Akan lain misalnya seorang
penulis mempunyai spesialisasi ilmu pengetahuan tertentu, karena dia akan
dicari pascatulisan itu terbit. Saya akui, dulu saya menulis banyak hal,
sekalipun pelan-pelan ingin saya arahkan ke satu-dua tema saja. Tetapi
kesulitan menjadi spesialis juga ada, yakni anda akan sangat tergantung
kepada momentum. Penulis yang baik harus bisa menyiasati momentum, sekalipun
punya spesialisasi, yakni dengan menjadikan peristiwa apapun sebagai jalan
pembuka. Ahli-ahli pemilu, misalnya, akan sulit menulis ketika musim pemilu
sudah lewat. Kalau ia kreatif, setiap bulan bisa saja menulis segala sesuatu
lalu mengaitkannya dengan pemilu.
Kelima, jangan lupa membikin tabungan naskah. Anda pasti akan
membutuhkannya, terutama kalau anda betul-betul menjadi penulis besar.
Ketika produktifitas tulisan saya begitu tinggi, sebagian saya ambil dari
tulisan ketika mahasiswa. Untunglah saya memasukkan beberapa ke dalam
komputer, sehingga tinggal mengolahnya lagi sesuai dengan kebutuhan
sekarang. Akan tetapi, model dan karakter tulisan mahasiswa itu tentulah
berlainan dengan sekarang. Tetapi ada keinginan tersendiri betapa apa yang
pernah saya tulis itu harus sampai kepada publik, kalau memang saya
menganggap tulisan itu bisa memberikan perspektif.
PenutupApa yang saya tuliskan ini tentulah belumlah semuanya. Apalagi di
tengah kesibukan sekarang, tentu semakin sulit bagi saya meluangkan waktu
untuk menulis. Harus ada banyak penyiasatan atas waktu. Dulu, apabila saya
bosan atas sesuatu, biasanya saya pergi ke tiga tempat, yakni toko buku,
pasar dan laut. Dengan mengunjungi toko buku, saya merasa menjadi orang
paling bodoh di dunia. Kalau ke pasar dan menemukan kuli, ibu-ibu penjual
sayur, atau bau busuk, saya merasa sebagai orang paling malas di dunia. Di
pinggir pantai saya merasa menjadi orang paling kecil di tepian galaksi.
Biasanya, saya kembali segar, lantas berusaha untuk tidak malas.
Dari menulis, saya mendapatkan banyak manfaat. Seringkali orang merasa saya
orang pintar. Padahal, banyak orang yang lebih pintar dan cerdas yang saya
temui dan kagumi. Saya justru merasa, kepintaran bukan ukuran untuk menjadi
seorang penulis. Yang paling penting barangkali empati atau keinginan
merasakan apa yang diderita atau dipikirkan atau dirasakan orang lain,
seperti orang lain itu memikirkan atau merasakannya. Kalau sisi humanisme
hilang dalam diri saya, barangkali saya tidaklah akan bisa menjadi seorang
penulis.
Saya memang mendapatkan uang, “ketenaran” dan segala macam hal lainnya
dengan menulis. Banyak yang tertipu dengan usia saya, pendidikan saya (saya
baru menyelesaikan S-1 Jurusan Ilmu Sejarah UI), sosok saya (saya tidak
pakai kacamata dan agak gaul, bukan ada di perpustakaan penuh debu),
orangtua saya (saya bukan anak jenderal, pengusaha besar atau pejabat
negara, karena ayah-ibu saya hanyalah petani dan pensiunan pegawai negeri
sipil golongan rendah), atau kondisi keuangan saya (sekarang memang sudah
lebih mapan, punya mobil, tiga kantor, tetapi saya tinggal di rumah mertua
di lingkungan yang “buruk”: banyak preman, kyai, etnis, juga ada banyak
penjual narkoba, pelacur, dll, di kawasan Jalan Krukut, Jakarta Kota), dan
lain-lain.
Sebagai pemompa semangat, dengan menulis katakanlah 350 artikel saja selama
5 tahun ini, lalu rata-rata artikel itu dihargai Rp. 500.000,- (ada yang
lebih ada yang kurang), berarti saya sudah mengumpulkan uang kira-kira
sebesar Rp. 175.000.000, – atau Rp. 35.000.000,- setahun. Kalau ukurannya
uang, sebetulnya menulis artikel hanyalah perantara kepada kegiatan lain,
seperti seminar, pelatihan, dan lain-lainnya yang uangnya lebih besar,
selain tentunya tawaran gaji yang lebih tinggi dari lembaga-lembaga yang
menginginkan saya bekerja di sana. Silakan tebak, berapa saya punya
penghasilan.
Menjadi penulis menurut saya bukan berarti harus menjadi miskin. Tetapi
tetap saja menjadi sebuah kesalahan pikiran kalau tujuan menjadi penulis
adalah mencari kekayaan atau ketenaran. Pengalaman menunjukkan, ketika saya
ingin bersembunyi dan menyendiri, tiba-tiba ada saja yang kenal dan harus
diajak bicara. Kehadiran televisi sebetulnya bisa menggerus kemampuan
seorang penulis, kalau penulis itu yang seharusnya menulis, tetapi harus
hadir di televisi menjadi seorang pembicara atau komentator.
Lebih dari segalanya, kebutuhan penulis di Indonesia masihlah besar. Selain
itu, nasib penulis Indonesia juga kurang beruntung. Jangankan untuk
mentraktir orang lain, bahkan untuk makan layak saja tidaklah cukup. Saya
punya sejumlah teman yang duluan terkenal, tetapi hidupnya pas-pasan karena
hanya mengandalkan tulisan. Karena media massa juga punya keterbatasan,
misalnya paling tinggi memuat dua tulisan dari satu penulis dalam sebulan,
kehidupan penulis bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Untuk makan saja tidak
cukup, apalagi untuk membeli buku, bepergian, meneliti, atau ketemu dengan
orang lain mendiskusikan sesuatu.
Bagi saya, nasib penulis haruslah diperbaiki. Sekarang saya mencoba
membangun sebuah organisasi yang menaungi penulis, bersama Andrinof
Chaniago, Jeffrie Geovanie, Saldi Isra, dan lain-lainnya. Mungkin namanya
Indonesian Writer’s Institute (IWI). Gagasan ini sudah lama saya perjuangkan
dan peminatnya tidak sedikit. Kehadiran organisasi ini tinggal menunggu
waktu, paling lama tahun depan. Dengan cara itu, mudah-mudahan ada banyak
jalan untuk menghasilkan para penulis, juga memperbaiki kehidupan (ekonomi)
para penulis, tanpa mereka harus kehilangan jati diri, cita-cita, dan
idealismenya.

3 thoughts on “Mengapa Saya Jadi Penulis?

  1. masa-masa kuliah mas fajar ternyata penuh perjuangan, penuh keringat, dan sejuta pengalaman berharga… hatur nuhun, sangat mengispirasi saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s