Rahasia Sumur Zam-zam


http://www.pikiran- rakyat.co. id/cetak/ 2007/112007/ 15/cakrawala/ index.html
Wed Nov 14, 2007 7:22 pm (PST)

Tidak seperti air mineral yang umum dijumpai, air zamzam memang unik, mengandung elemen-elemen alamiah sebesar 2.000 miligram per liter. Biasanya air mineral alamiah (hard carbonated water) tidak akan lebih dari 260 miligram per liter. Elemen-elemen kimiawi yang terkandung dalam air zamzam dapat dikelompokkan menjadi dua.

Pertama, positive ions seperti sodium/Na (250 mg per liter), kalsium/Ca (200 mg per liter), potassium/K (20 mg per liter), dan magnesium/Mg (50 mg per liter). Kedua, negative ions misalnya sulfur (372 mg per liter), bikarbonat (366 mg per liter), nitrat (273 mg per liter), fosfat (0.25 mg per liter), dan amonia (6 mg per liter). Kandungan elemen-elemen kimiawi inilah yang menjadikan rasa dari air zamzam sangat khas dan dipercaya dapat memberikan khasiat khusus. Air yang sudah siap saji yang bertebaran di sekitar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi di Madinah merupakan air yang sudah diproses sehingga sangat aman dan segar diminum, ada yang sudah didinginkan dan ada yang sejuk (hangat). Namun, konon proses higienisasi ini tidak menggunakan proses kimiawi untuk menghindari perubahan rasa dan kandungan air ini.

Tulisan ini tidak akan membahas khasiat air zamzam, tetapi menjelaskan keberadaan sumur zamzam dan air yang dihasilkannya dari sisi ilmiah saintifik, khususnya dari kacamata hidrogeologi (ilmu yang mempelajari tentang air).

Dimensi dan profil
Selama ini kita mengenal sumur zamzam dari buku-buku agama. Namun, amat jarang kita mendapat penjelasan mengenai sumur zamzam dari sisi ilmiah scientifik. Berbicara tentang sumur zamzam, kita bisa sedikit menarik mundur ke cerita pra-Islam atau sebelum kelahiran Nabi Muhammad. Diawali dengan kisah Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim, yang mencari air untuk anaknya, Ismail.

Setelah itu, sumur tersebut tidak banyak atau bahkan tidak ada ceritanya, sehingga dikabarkan hilang. Sumur zamzam yang sekarang ini kita lihat dan airnya dibawa para jemaah haji sebagai oleh-oleh adalah sumur yang digali oleh Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad. Sehingga saat ini, dari “ilmu persumuran”, sumur zamzam termasuk kategori sumur gali (dug water well).

Sumur ini memiliki kedalaman sekitar 30,5 meter. Hingga kedalaman 13,5 meter teratas menembus lapisan alluvium Wadi Ibrahim. Lapisan ini merupakan lapisan pasir yang sangat berpori. Lapisan ini berisi batu pasir hasil transportasi dari lain tempat. Mungkin saja dahulu ada lembah yang dialiri sungai yang saat ini sudah kering. Atau dapat pula merupakan dataran rendah hasil runtuhan atau penumpukan hasil pelapukan batuan yang lebih tinggi topografinya.

Di bawah lapisan alluvial Wadi Ibrahim ini terdapat setengah meter lapisan yang sangat lulus air (permeable). Lapisan yang sangat lulus air inilah yang merupakan tempat utama keluarnya air-air di sumur zamzam. Kedalaman 17 meter ke bawah selanjutnya, sumur ini menembus lapisan batuan keras yang berupa batuan beku diorit. Batuan beku jenis ini (diorit) memang agak jarang dijumpai di Indonesia atau di Jawa, tetapi sangat banyak
dijumpai di Jazirah Arab. Pada bagian atas batuan ini dijumpai rekahan-rekahan yang juga memiliki kandungan air. Dulu ada yang menduga retakan ini menuju Laut Merah. Tetapi, tidak ada (barangkali saja saya belum menemukan) laporan geologi yang menunjukkan hal itu.

Dari uji pemompaan, sumur ini mampu mengalirkan air sebesar 11 -18,5 liter/detik, hingga per menit dapat mencapai 660 liter atau 40.000 liter per jam. Celah-celah atau rekahan ini salah satu yang mengeluarkan air cukup banyak. Ada celah (rekahan) yang memanjang ke arah Hajar Aswad dengan panjang 75 cm dengan ketinggian 30 cm, juga beberapa celah kecil ke arah Shaffa dan Marwa.

Keterangan geometris lainnya, celah sumur di bawah tempat tawaf sepanjang 1,56 meter, kedalaman total dari bibir sumur 30 meter, kedalaman air dari bibir sumur sekitar 4 meter, kedalaman mata air 13 meter. Dari mata air sampai dasar sumur 17 meter, dan diameter sumur berkisar antara 1,46 meter hingga 2,66 meter. Kota Mekah terletak di lembah. Menurut SGS (Saudi Geological Survey) luas cekungan yang menyuplai sebagai daerah tangkapan ini seluas 60 km persegi saja. Tentunya tidak terlampau luas sebagai sebuah cekungan penadah hujan. Sumber air sumur zamzam terutama dari air hujan yang turun di daerah sekitar Mekah. Badan riset Pemerintah Arab Saudi yang sudah modern saat ini–secara ilmiah dan saintifik–membentuk sebuah badan khusus yang mengurusi sumur zamzam ini. Namanya Badan Riset Sumur Zamzam dan bekerja di bawah SGS (Saudi Geological Survey). Sepertinya memang Arab Saudi juga bukan sekadar percaya saja dengan menyerahkan kepada Allah sebagai penjaga, namun justru sangat meyakini
manusialah yang harus memelihara berkah sumur ini.

Pada tahun 1971 dilakukan penelitian (riset) hidrologi oleh seorang ahli hidrologi dari Pakistan bernama Tariq Hussain dan Moin Uddin Ahmed. Hal ini dipicu oleh pernyataan seorang doktor di Mesir yang menyatakan air zamzam tercemar air limbah dan berbahaya untuk dikonsumsi. Tariq Hussain (termasuk saya dari sisi hidrogeologi) juga meragukan spekulasi adanya rekahan panjang yang menghubungkan Laut Merah dengan sumur zamzam, karena Mekah terletak 75 km dari pinggir pantai.


Menyangkut dugaan doktor Mesir ini, tentu saja hasilnya menyangkal pernyataan seorang doktor dari Mesir tersebut. Akan tetapi, ada hal yang lebih penting, yaitu bahwa penelitian Tariq Hussain ini justru akhirnya memacu pemerintah Arab Saudi untuk memerhatikan sumur zamzam secara modern. Saat ini banyak sekali gedung-gedung baru yang dibangun di sekitar Masjidil Haram. Selain itu, juga banyak sekali terowongan dibangun di sekitar Mekah, sehingga saat ini pembangunannya harus benar-benar dikontrol ketat karena akan mempengaruhi kondisi hidrogeologi setempat.

Ada beberapa tugas yang dilakukan Badan Riset Sumur Zamzam yang berada di bawah SGS (Saudi Geological Survey). Pertama, memonitor dan memelihara untuk menjaga jangan sampai sumur ini kering. Kedua, menjaga urban di sekitar Wadi Ibrahim karena memengaruhi pengisian air. Ketiga, mengatur aliran air dari daerah tangkapan air (recharge area). Keempat, memelihara pergerakan air tanah dan juga menjaga kualitas melalui bangunan kontrol. Kelima, meng-upgrade pompa dan tangki-tangki penadah. Keenam, mengoptimasi suplai dan distribusi air zamzam.

 

(Rovicky Dwi Putrohari Anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) dan pengasuh “blog” dongeng geologi.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s